Menurut Eri, penanganan kasus ini melibatkan kerja sama banyak pihak. Tim dari Rumah Sakit Hewan Cikole, DKPP, BBKSDA, hingga dokter hewan dari kebun binatang bahu-membahu. Mereka berusaha melawan virus yang menyerang sistem pencernaan dan kekebalan tubuh itu.
Gejalanya sendiri sudah tampak jelas: muntah, diare parah, bahkan ditemukan darah pada feses. Begitu tanda-tanda itu muncul, kedua anak harimau itu langsung dipindahkan ke kandang karantina untuk perawatan intensif.
Lalu, dari mana virusnya berasal? Pertanyaan itu masih menggelayut. Eri menjelaskan, sumber penularan Panleukopenia bisa bermacam-macam. Lingkungan sekitar adalah salah satu faktor yang mungkin. Namun begitu, belum ada kepastian apakah ada satwa lain di lokasi yang juga tertular.
“Kami belum bisa memastikan apakah ada satwa lain yang terjangkit,” jelasnya.
Kronologi kejadiannya begini. Hara lebih dulu mati pada Selasa, 24 Maret 2026. Dua hari kemudian, tepatnya Kamis 26 Maret, Huru menyusul. Keduanya adalah anak dari pasangan harimau Benggala bernama Sahrulkan (jantan) dan Jelita (betina), yang lahir pada pertengahan Juli tahun lalu. Kematian mereka tentu menjadi pukulan bagi program konservasi dan para pencinta satwa di kota kembang.
Artikel Terkait
Arief Catur Pamungkas Siap Perkuat Persebaya Lawan Persita Usai Pulih dari Cedera
Truk Pengangkut Telur Oleng, Tewaskan Pemilik Warung di Subang
TNI Bangun Ulang Jembatan Gumuzo di Nias Utara, Akses Vital Kembali Pulih
Energi Watch: Konversi ke Kompor dan Kendaraan Listrik Bisa Hemat Subsidi Ratusan Miliar