"Kenaikannya sangat signifikan. Jika pada hari normal kami melayani sekitar 30 orang, pada masa mudik ini angka kunjungan bisa menembus 100 orang per hari," kata Amalia.
Lalu, apa yang mendorong orang-orang rela berdesakan ini? Ternyata, membawa buah tangan punya makna lebih dalam bagi sebagian pemudik. Bukan sekadar tradisi tahunan, tapi juga jadi cara untuk memperkenalkan potensi daerah asal mereka.
Seperti yang dilakukan Vivi, warga asli Jember yang bekerja di Jakarta. Ia sengaja memborong kopi lokal untuk dibawa kembali ke ibu kota.
"Kopi Jember memiliki kualitas unggul namun belum banyak diketahui secara luas. Saya memanfaatkan momen pulang kampung ini untuk membantu mempromosikan produk lokal kepada teman-teman di Jakarta," ungkapnya.
Cerita lain datang dari Ikey, seorang pengunjung di Lampung. Alasannya lebih sederhana: kelengkapan produk. Ia berencana membawa oleh-oleh hasil belanjanya ke Subang, Jawa Barat, sebagai hantaran untuk keluarga.
Geliat di dua lokasi ini, meski terpisah pulau, seolah menggambarkan satu hal yang sama. Momentum mudik Lebaran terbukti efektif memutar roda ekonomi daerah, khususnya bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Ada optimisme yang terasa, sebuah tanda pemulihan daya beli masyarakat pasca pandemi yang perlahan tapi pasti mulai terlihat nyata.
Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
TNI Bangun Ulang Jembatan Gumuzo di Nias Utara, Akses Vital Kembali Pulih
Energi Watch: Konversi ke Kompor dan Kendaraan Listrik Bisa Hemat Subsidi Ratusan Miliar
Arus Balik H+5 Masih Padat, Pemudik di Km 18 Japek Selatan Beristirahat di Tengah Lelah Perjalanan
Panglima TNI Ambil Alih Langsung Posisi Kabais di Tengah Kasus Penyegelan Aktivis