Peringatan keras datang dari Gedung Putih. Amerika Serikat menyatakan Iran harus segera menerima kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Kalau tidak, ancamannya serius: Presiden Donald Trump siap 'melepaskan neraka'.
Peringatan itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
"Jika Iran gagal menerima realitas saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus mengalami hal tersebut, Presiden Trump akan memastikan mereka dipukul lebih keras daripada sebelumnya," ujarnya, seperti dilaporkan AFP, Kamis lalu.
Leavitt menegaskan bahwa ini bukan gertakan semata. Trump, katanya, benar-benar siap melancarkan serangan lanjutan. Iran diminta untuk tidak salah langkah lagi dan serius mempertimbangkan tawaran yang ada.
"Presiden Trump tidak sedang menggertak dan Ia siap untuk melepaskan neraka. Iran tidak boleh melakukan salah perhitungan lagi," tegas Leavitt.
Di sisi lain, di balik ancaman militer yang keras, AS rupanya sudah mengajukan proposal gencatan senjata. Kabar ini pertama kali beredar lewat laporan New York Times, yang mengutip dua pejabat Washington yang tahu soal draf proposal itu.
Menurut NYT, tawaran gencatan senjata yang terdiri dari 15 poin itu sudah disampaikan ke pejabat Iran, dengan Pakistan sebagai perantara. Islamabad bahkan disebut bersedia menjadi tuan rumah untuk negosiasi ulang antara Washington dan Teheran. Sayangnya, detail dari 15 poin itu masih tertutup untuk publik.
Laporan dari televisi Israel, Channel 12, punya info tambahan. Mereka mengutip tiga sumber yang menyebut AS mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan penuh, khusus untuk membahas rencana 15 poin tadi. Rencana itu kabarnya mencakup hal-hal besar: pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan untuk kelompok proxy di kawasan, dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun begitu, tanggapan dari Teheran justru penuh cemooh. Pemerintah Iran seolah menepis upaya AS untuk berdamai.
Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, juru bicara militer Iran, bersuara lantang. Dalam pernyataan video yang ditayangkan televisi pemerintah, Rabu waktu setempat, ia menyindir habis-habisan.
"Kekuatan strategis yang dulu Anda bicarakan, telah berubah menjadi kegagalan strategis," kata Zolfaghari, yang menyasar AS.
Ia bahkan menegaskan bahwa AS hanya akan berunding dengan diri mereka sendiri.
"Negara yang mengklaim sebagai negara adidaya global pasti sudah keluar dari kekacauan ini jika memang mampu. Jangan menyamarkan kekalahan Anda sebagai kesepakatan. Era janji-janji kosong Anda telah berakhir," tegasnya.
Jadi, situasinya seperti ini: satu sisi mengancam perang lebih dahsyat, sambil menyelipkan proposal perdamaian. Sisi lain menolak mentah-mentah, dengan kata-kata pedas. Ketegangan di Timur Tengah masih jauh dari kata reda.
Artikel Terkait
Polisi Bongkar Markas Judi Online Terbesar, 321 WNA Diamankan di Jakarta Barat
Mardani Ali Sera Kritik Sikap PDIP yang Tolak RUU Pemilu Jadi Inisiatif Pemerintah
Polri Bekuk 321 WNA Pelaku Judi Online di Markas Tersembunyi Hayam Wuruk
Brimob dan Polsek Pamulang Amankan Remaja yang Hendak Balap Liar di Jalan Kemiri