UE Blokir Pendanaan untuk Inverter Surya China karena Khawatir Risiko Keamanan Jaringan Listrik

- Minggu, 10 Mei 2026 | 12:55 WIB
UE Blokir Pendanaan untuk Inverter Surya China karena Khawatir Risiko Keamanan Jaringan Listrik

Komisi Eropa secara resmi memblokir pendanaan Uni Eropa untuk teknologi panel surya buatan China, menyusul kekhawatiran bahwa perangkat tersebut dapat menjadi celah keamanan yang mengancam jaringan listrik Eropa hingga berpotensi menyebabkan pemadaman total.

Keputusan yang diambil pada 4 Mei lalu ini mencerminkan meningkatnya kecemasan Brussel terhadap ketergantungan Eropa pada teknologi ramah lingkungan asal China, terutama yang berkaitan dengan infrastruktur kritis. Fokus utama larangan pendanaan ini adalah inverter surya, atau pembalik daya, yang dianggap sebagai “otak” dari sistem panel surya. Inverter berfungsi mengubah energi surya menjadi listrik yang dapat digunakan, dan perangkat ini terhubung ke internet sehingga sering kali dapat diakses dari jarak jauh untuk keperluan pemeliharaan dan pembaruan perangkat lunak.

Menurut Christoph Podewils, sekretaris jenderal European Solar Manufacturing Council, setiap perusahaan pembuat inverter memiliki semacam tombol pemutus darurat. Tombol tersebut dan pengendali koneksi jarak jauh lainnya biasanya digunakan untuk keamanan atau stabilisasi jaringan. Namun, para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa dalam skenario terburuk, peretas atau aktor negara yang bermusuhan dapat memanfaatkan koneksi jarak jauh itu untuk mengganggu pasokan listrik.

“Skenario terburuknya adalah pemadaman listrik berskala besar di seluruh Eropa,” ujar Swantje Westphal, seorang ahli keamanan siber.

Data dari Organisasi Riset Loom yang berbasis di Jenewa menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sebanyak 61 persen dari seluruh inverter yang diimpor ke Eropa berasal dari China. Dua produsen utama, Huawei dan Sungrow, mendominasi tidak hanya pasar Eropa, tetapi juga pasar global. Sejumlah produsen asal China telah menyediakan perangkat keras untuk lebih dari 220 gigawatt kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang terpasang di Eropa. Podewils menambahkan bahwa mengendalikan sekitar 10 gigawatt saja sudah cukup untuk menciptakan gangguan besar pada jaringan listrik Eropa.

Meskipun hingga saat ini belum ada kasus yang ditemukan terkait inverter China yang digunakan untuk mematikan sebagian jaringan listrik di Eropa, kekhawatiran semakin meningkat setelah Reuters melaporkan pada tahun 2025 bahwa otoritas energi Amerika Serikat menemukan perangkat komunikasi berbahaya di dalam beberapa inverter buatan China. “Ancaman ini nyata. Ini bukan hipotesis yang dibuat-buat,” tegas Westphal.

Perdebatan mengenai inverter ini muncul di tengah evaluasi ulang Eropa terhadap ketergantungannya yang luas pada impor teknologi bersih dari China. Menurut Loom, China mengekspor 98 persen panel surya dan 88 persen baterai lithium-ion ke Eropa. Loom memperingatkan bahwa fungsi pengendali jarak jauh yang terhubung dengan teknologi energi tersebut berpotensi menciptakan kerentanan pada seluruh sistem tenaga listrik.

Sementara itu, Brussel kian bertindak tegas terhadap impor teknologi China yang dinilai berisiko. Pada bulan Maret, Komisi Eropa memaparkan RUU Akselerator Industri yang bertujuan mengarahkan lebih banyak pendanaan pada teknologi hijau buatan Eropa, termasuk baterai dan kendaraan listrik. Komisi Eropa juga merevisi RUU Keamanan Siber yang memberikan wewenang lebih besar kepada Brussel untuk membatasi keterlibatan perusahaan-perusahaan China pada infrastruktur kritis, seperti infrastruktur komunikasi atau pemasok energi di seluruh negara anggota Uni Eropa.

Lewat kebijakan terbarunya, dana Uni Eropa yang dikelola langsung oleh Komisi dan lembaga-lembaga seperti Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan tidak lagi dapat digunakan untuk membeli inverter surya buatan China. Namun, pembatasan tersebut tidak berlaku untuk pembelian yang dilakukan langsung oleh negara-negara anggota Uni Eropa. Inverter buatan China yang sudah terpasang di seluruh Eropa pun tetap dapat beroperasi. “Ini adalah langkah ke arah yang benar,” kata Westphal, “tapi kami tidak melarang inverter buatan China itu dari pasar kami.”

Di sisi lain, saat ini 80 persen sistem PLTS baru di Eropa bergantung pada inverter buatan China, menurut Dewan Manufaktur Panel Surya Eropa. Jika permintaan tidak diisi oleh produsen China, produsen Eropa harus mengisi kekosongan yang signifikan. Namun, Podewils yakin bahwa pemasok Eropa sudah siap. “Itu mungkin untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam waktu beberapa bulan hingga mencapai level yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan,” ujarnya.

Inverter buatan Eropa diperkirakan 2 persen lebih mahal daripada produk alternatif dari China, menurut seorang pejabat Komisi Eropa. Meski demikian, Podewils berpendapat bahwa biaya tambahan tersebut dapat dibenarkan. “Ini seperti biaya asuransi,” katanya, merujuk pada perlindungan dari risiko yang ditanggung di masa depan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar