Keputusan menerapkan KRYD ini punya alasan kuat. Ternyata, arus balik menuju Jakarta masih cukup besar. Baru sekitar 57,71 persen kendaraan yang masuk sesuai proyeksi. Masih ada sisa sekitar 42 persen lagi yang akan memadati jalan dalam beberapa hari ke depan.
“Kami pastikan pengamanan tetap optimal. Agar setiap pemudik bisa kembali dengan selamat,” tegas Irjen Agus.
“Bagi kami, tugas ini adalah kehormatan. Memastikan keselamatan masyarakat,” imbuhnya dengan nada serius.
Keberhasilan ini tentu bukan datang tiba-tiba. Rekayasa lalu lintas yang terukur, seperti sistem satu arah nasional hingga yang bersifat presisi di segmen tertentu, memberi dampak besar. Teknologi juga berperan penting. Patroli ETLE, command center mobile, hingga body cam membantu petugas di lapangan mengambil keputusan lebih cepat dan akurat.
Namun begitu, Agus menekankan bahwa kunci utamanya ada di dua hal: sinergi antar-pemangku kepentingan dan pelayanan yang humanis. Semua dijalankan dengan semangat sederhana: “Mudik Aman, Keluarga Bahagia.”
Jadi, meski Operasi Ketupat sudah ditutup, perjalanan pulang para pemudik masih dalam pengawasan ketat. Targetnya jelas: mempertahankan tren positif tadi sampai titik akhir.
Artikel Terkait
Staf Bawaslu OKU Selatan Ditemukan Tewas dengan Luka di Leher
Psikolog Sarankan Metode JEDA untuk Tangkal Reaksi Instan di Media Sosial
Operasi Ketupat 2026 Berakhir, Satu Personel Gugur Akibat Kelelahan Ekstrem
Pimpinan IRGC Tantang AS: Coba Lakukan Invasi Darat, Kami Sudah Siap