Soal penyalurannya, Purbaya menyebut pola yang digunakan fleksibel. Saat ini, fokus masih pada bank-bank tertentu. Bank DKI, misalnya, disebut-sebut mendapat jatah.
"Bank DKI aja dapat Rp 2 triliun kalo enggak salah," tuturnya.
Untuk bank-bank swasta, tampaknya belum jadi prioritas di tahap awal ini. Intinya, pemerintah punya ruang gerak untuk menempatkan dana ini sesuai kebutuhan dan kondisi pasar.
Pada dasarnya, langkah ini adalah bagian dari strategi pengelolaan kas negara yang lebih dinamis. Dana SAL yang menganggur dimanfaatkan untuk mencegah kekeringan likuiditas sekaligus menjaga stabilitas harga obligasi. Harapannya, dengan perbankan punya dana segar, mereka bisa lebih aktif membeli obligasi sehingga pasar tetap tenang.
Jadi, tambahan Rp100 triliun itu bukan sekadar angka. Itu adalah upaya pre-emptive pemerintah membaca gejolak pasar dan bertindak cepat sebelum isu likuiditas berkembang jadi masalah yang lebih serius.
Artikel Terkait
Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Pengamanan Jalur Mudik Berlanjut Lewat KRYD
Arus Balik Lebaran Picu Lonjakan Lalu Lintas 202% di Tol Layang MBZ
Arus Balik di Simpang Ajibarang Ramai Lancar Meski Diguyur Hujan
Pembangunan Bandara Guangzhou Baru Dimulai, Dukung Pertumbuhan Kawasan Teluk Besar