Pernyataan itu langsung memicu analisis ulang. Jenderal Richard Barrons, mantan kepala Komando Pasukan Gabungan Inggris, mengaku terkejut dengan jarak tempuhnya.
"Sebelumnya kami mengira rudal Iran memiliki jangkauan 2.000 kilometer, tapi faktanya Diego berjarak 3.800 kilometer dari Iran," ucap Barrons.
Selama ini, Iran memang mengklaim membatasi sendiri program rudal balistiknya pada jangkauan 2.000 km. Dengan batasan itu, Israel terjangkau, tapi Eropa tidak. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 2021 pernah menyatakan bahwa pembatasan itu adalah pilihan politik, bukan karena kendala teknis.
Namun begitu, ada desas-desus bahwa proyek pengembangan rudal jarak jauh ini juga menghadapi tentangan dari dalam, termasuk dari kalangan militer dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Khamenei sendiri berulang kali menegaskan ancaman Iran hanya untuk Israel, bukan untuk Eropa.
Tapi pada September 2025, seorang anggota parlemen Iran di televisi pemerintah menyebut IRGC telah sukses menguji rudal balistik antarbenua. Rincian jangkaunya tidak dijelaskan.
Benarkah Bisa Mencapai Eropa atau AS?
AS sejak lama menuduh program luar angkasa Iran adalah kedok untuk teknologi rudal antarbenua. Beberapa pakar sependapat. Karin von Hippel, mantan direktur jenderal Royal United Services Institute di London, memberi gambaran mengerikan.
"Dengan asumsi rudal mencapai Diego Garcia, Iran juga mengembangkan rudal balistik antarbenua yang dapat mencapai hingga 10.000 kilometer, meskipun kita belum melihatnya beraksi," katanya.
Kalau benar, berarti daratan AS pun sudah masuk dalam radar potensial.
Serangan ke Samudra Hindia ini, bagi sebagian pakar, adalah tanda bahwa batasan internal Iran sudah tidak berlaku lagi. Tapi tentu saja, ada juga yang meragukan. Menteri Perumahan Inggris, Steve Reed, dengan tegas menyatakan, "Tidak ada penilaian spesifik bahwa Iran menargetkan Inggris atau bahkan dapat melakukannya jika mereka mau."
Di balik semua analisis teknis, ada permainan psikologis yang mungkin lebih penting. Danny Citrinowicz, mantan perwira intelijen militer Israel, punya tafsir menarik.
"Bukan berarti mereka berpikir bahwa besok mereka akan menyerang London atau Paris," katanya.
"Tapi bagi mereka itu adalah elemen lain yang memungkinkan mereka untuk membangun pencegahan."
Respons Israel yang langsung menyebut-nyebut ancaman ke Eropa juga punya interpretasi lain. Richard Shirreff, mantan wakil komandan NATO untuk Eropa, melihatnya sebagai taktik.
"Tentu saja Israel akan mengatakan ini karena sesuai dengan kepentingan mereka untuk memperluas perang dan melibatkan sebanyak mungkin negara lain di samping Amerika dan Israel," ujarnya.
"Kita harus menolak ajakan ini. Ini adalah perang Trump, tanpa tujuan akhir dan strategi yang jelas."
Dia bahkan menyatakan skeptisisme yang dalam: "Kita diberitahu bahwa kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan enam bulan yang lalu. Kita tidak bisa mempercayai apa pun yang keluar dari AS tentang hal ini."
Jadi, di balik asap dan dentuman yang mungkin tidak mengenai sasaran, perang persepsi dan psikologi justru sedang berkecamuk dengan hebatnya. Rudal itu mungkin jatuh di laut, tapi gelombang kejutnya menyebar jauh hingga ke meja-meja strategi di seluruh dunia.
Artikel Terkait
Normalisasi Lalu Lintas Trans Jawa Dimulai, Sistem One Way Dihentikan Bertahap
Arus Balik Lebaran Padati Pelabuhan Raha, 1.200 Tiket Rute ke Kendari Ludes Terjual
Mensos Gus Ipul Tegur 2.708 Pegawai Bolos Usai Libur Lebaran
PM Spanyol: Konflik Timur Tengah Saat Ini Lebih Buruk Dibanding Invasi AS ke Irak