Pedro Sanchez, Perdana Menteri Spanyol, punya pandangan keras tentang konflik yang berkecamuk di Timur Tengah. Menurutnya, situasi saat ini jauh lebih mengerikan dibanding invasi Amerika Serikat ke Irak dua dekade lalu.
"Ini bukan skenario yang sama dengan perang ilegal di Irak," tegasnya di hadapan parlemen, Rabu lalu.
"Kita menghadapi sesuatu yang jauh lebih buruk. Jauh lebih buruk."
Suaranya terdengar berat. Sanchez melanjutkan, konflik sekarang punya potensi dampak yang lebih luas dan lebih dalam. "Kali ini, ini adalah perang yang absurd dan ilegal. Perang kejam yang menghambat kita mencapai tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan kita," imbuhnya.
Pernyataan keras ini bukan tanpa konsekuensi. Sanchez, yang berasal dari partai sosialis, baru-baru ini menolak permintaan Washington. AS ingin menggunakan pangkalan militer Madrid untuk operasi melawan Iran. Penolakan itu ia pertahankan, meski ancaman dari Presiden Donald Trump menggantung: perdagangan dengan Spanyol bisa diputus.
Bagi Sanchez, pelajaran dari Irak tahun 2003 masih terasa pahit. Invasi itu, katanya, gagal total. Alih-alih membawa perdamaian, kehidupan warga biasa justru makin sulit. Harga bahan bakar dan makanan melambung, krisis migrasi tak terelakkan, dan serangan militan mulai merambah Eropa.
Ia khawatir sejarah akan terulang, bahkan lebih parah. Serangan terhadap Iran berpotensi memicu dampak ekonomi serupa yang akan dirasakan oleh jutaan orang di seluruh dunia.
"Setiap bom yang jatuh di Timur Tengah," kata Sanchez dengan nada prihatin, "pada akhirnya akan menghantam -- seperti yang sudah kita lihat -- keuangan keluarga-keluarga kita."
Artikel Terkait
Polri Pastikan Blackout Sumatera Bukan Sabotase, Penyebabnya Faktor Teknis dan Cuaca Ekstrem
Polisi Tangkap Pelaku Penggelapan Valas Rp1,2 Miliar yang Kabur ke Jakarta
AS Lancarkan Serangan Militer ke Iran di Tengah Negosiasi yang Masih Berlangsung
Gaya Hidup Sehat Tak Cukup, WNI di New York Berjuang Lawan Hipertiroid dan Gangguan Jantung