Militer Amerika Serikat secara resmi mengumumkan telah melancarkan serangan yang disebut sebagai tindakan bela diri di wilayah selatan Iran, menandai eskalasi baru di tengah negosiasi yang masih berlangsung antara kedua negara. Operasi tersebut melibatkan peluncuran rudal dan pemasangan ranjau yang dilakukan oleh kapal-kapal Angkatan Laut AS, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Juru Bicara CENTCOM, Tim Hawkins, menjelaskan bahwa serangan itu dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa militer AS tetap menerapkan pengendalian diri selama masa gencatan senjata yang sedang berlangsung. Hingga saat ini, detail teknis pelaksanaan rencana operasi tersebut belum sepenuhnya diungkapkan ke publik, dan belum jelas bagaimana langkah militer ini akan memengaruhi jalannya perundingan bilateral.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran masih mungkin tercapai meskipun serangan baru ini dilancarkan. Dalam pernyataannya kepada jurnalis saat kunjungan resmi ke India, Rubio mengungkapkan bahwa pembicaraan sedang berlangsung di Qatar. Ia menambahkan bahwa negosiasi saat ini masih berkutat pada bahasa spesifik dalam dokumen awal dan diperkirakan memakan waktu beberapa hari. Rubio juga menekankan bahwa Presiden AS telah menyatakan keinginan untuk mencapai penyelesaian, namun dengan catatan bahwa kesepakatan yang dihasilkan harus menguntungkan atau tidak ada kesepakatan sama sekali.
Pernyataan Rubio muncul tidak lama setelah CENTCOM mengumumkan serangan tersebut, yang menargetkan lokasi peluncuran rudal dan aktivitas pemasangan ranjau oleh kapal-kapal Iran. Situasi ini menambah kompleksitas hubungan AS-Iran yang sudah tegang, terutama di tengah upaya diplomatik yang masih berjalan.
Di sisi lain, ketegangan juga terjadi di kawasan Timur Tengah lainnya. Meskipun ada gencatan senjata resmi, tentara Israel dan milisi Hizbullah yang berbasis di Lebanon terus saling melancarkan serangan. Hizbullah dilaporkan menyerang wilayah utara Israel menggunakan drone, yang mengenai sebuah rumah dan halte bus. Sebagai respons, militer Israel menyerang sejumlah lokasi yang disebut sebagai infrastruktur kelompok yang didukung Iran di daerah Tyre, Lebanon. Serangan itu terjadi setelah Israel memperingatkan penduduk di sepuluh desa untuk melakukan evakuasi.
Pihak berwenang Lebanon mencatat bahwa lebih dari 3.100 orang tewas sejak Israel memperbarui serangannya di bagian selatan negara itu pada 3 Maret 2026. Sementara itu, dari pihak Israel, sedikitnya 23 tentara dan satu tentara bayaran dilaporkan tewas. Di tengah negosiasi antara AS dan Iran yang bertujuan menghentikan perang, muncul pula rencana penghentian permusuhan di Lebanon selatan. Namun, menteri-menteri sayap kanan Israel secara terbuka mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk kembali pada kebijakan pertempuran tegas melawan Hizbullah di wilayah tersebut.
Artikel Terkait
Persis Solo Degradasi, Pelatih Milo Yakin Tim Segera Bangkit ke Kasta Tertinggi
BCA Resmi Buka Jalur Top Up ShopeePay via ATM, BCA Mobile, dan myBCA
Polri Pastikan Blackout Sumatera Bukan Sabotase, Penyebabnya Faktor Teknis dan Cuaca Ekstrem
Polisi Tangkap Pelaku Penggelapan Valas Rp1,2 Miliar yang Kabur ke Jakarta