AS Ajukan 15 Syarat Gencatan Senjata ke Iran, Siap Kerahkan Ribuan Tentara Tambahan

- Rabu, 25 Maret 2026 | 14:10 WIB
AS Ajukan 15 Syarat Gencatan Senjata ke Iran, Siap Kerahkan Ribuan Tentara Tambahan

Dalam pernyataan di platform X, Macron mendesak Iran terlibat secara konstruktif untuk deeskalasi. Ia ingin ada kerangka yang bisa memenuhi ekspektasi internasional soal program nuklir, balistik, dan aktivitas Iran yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan.

Macron juga menegaskan pentingnya menghentikan serangan Iran yang ia nilai "tidak dapat diterima" terhadap negara-negara tetangga. Ia minta Iran jaga infrastruktur energi dan sipil, serta pastikan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang super vital itu.

Ribuan Tentara Tambahan AS Bersiap Dikerahkan?

Sementara diplomasi berjalan, militer AS tampaknya juga bersiap. Pentagon dikabarkan akan memerintahkan pengerahan ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah. The Wall Street Journal menyebut angka sekitar 3.000 personel, untuk memperkuat operasi terkait Iran.

Reuters juga melaporkan hal serupa. Pasukan tambahan itu disebut berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82 satuan elit Angkatan Darat AS yang punya kemampuan bergerak cepat ke mana saja. Markasnya di Fort Bragg, Carolina Utara. Mereka ahli dalam operasi terjun payung untuk amankan posisi strategis di wilayah bermusuhan.

Para pejabat belum merinci tujuan pasti atau waktu pemberangkatan. Mereka juga menegaskan belum ada keputusan untuk menempatkan pasukan AS langsung di wilayah Iran. Tapi, peningkatan kekuatan ini jelas memberi Presiden Trump lebih banyak opsi. The Wall Street Journal menyebut opsi itu bisa berupa membuka paksa Selat Hormuz atau bahkan merebut pulau-pulau strategis milik Iran.

Pengerahan ini bukan yang pertama. Pekan lalu, AS sudah mengirim 2.500 Marinir dan pelaut dengan kapal serbu amfibi USS Boxer ke kawasan yang sama.

Iran Umumkan Aturan Baru untuk Selat Hormuz

Menanggapi berbagai tekanan, Iran rupanya mengeluarkan aturan baru. Mereka menyatakan kapal-kapal "nonhostile" atau tidak bermusuhan boleh melintasi Selat Hormuz, asal berkoordinasi dulu dengan otoritas mereka. Kabar ini muncul dari sebuah surat yang dikutip sejumlah media, termasuk The Financial Times dan dikonfirmasi Reuters serta AFP.

Isinya jelas. Kapal yang terkait dengan AS, Israel, serta "peserta lain dalam agresi," tidak memenuhi syarat untuk pelayaran damai. Surat itu menyebut Iran telah mengambil tindakan proporsional untuk cegah agresor mengeksploitasi selat itu untuk operasi bermusuhan.

Selat Hormuz, jalur tempat seperlima minyak dunia mengalir, ditutup sejak perang meletus akhir Februari. Ratusan kapal kini mengantre di Teluk Persia. Trump sudah mengancam akan serang pembangkit listrik Iran jika selat tidak dibuka. Sampai saat ini, Teheran belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalah.

Artikel ini diadaptasi dari sumber berbahasa Inggris.
Disusun oleh Levie Wardana
Editor: Prihardani Purba

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar