Pemerintah sebenarnya sudah bergerak. Ada stimulus fiskal senilai lebih dari Rp12,8 triliun. Bantuan sosial Rp11,92 triliun disalurkan ke lebih dari lima juta keluarga. Diskon tarif transportasi juga diberikan untuk meringankan beban mudik. Langkah-langkah ini penting sebagai bantalan jangka pendek.
Namun begitu, sifatnya masih reaktif dan musiman. Belum menyentuh kebutuhan jangka panjang. Kita perlu mengubah cara pandang. Lebaran seharusnya bukan sekadar peristiwa tahunan yang datang dan pergi. Ini harus jadi pintu masuk untuk memperkuat struktur ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Peran pengusaha UMKM di sini krusial. Mereka tulang punggung ekonomi daerah sekaligus kelompok yang paling rentan. Saat permintaan tinggi, mereka kerap terkendala modal. Usai Lebaran, ketika permintaan turun, merekalah yang pertama terpukul. Mereka butuh dukungan sistematis: akses pembiayaan mikro yang cepat, plus penguatan ekosistem usaha di daerah.
Selain itu, stabilisasi harga pangan harus jadi prioritas utama. Ketersediaan cadangan dan distribusi yang efisien akan menentukan kemampuan kita menjaga daya beli. Tanpa itu, setiap Lebaran akan selalu diiringi drama kenaikan harga yang sama.
Menuju Pertumbuhan yang Lebih Merata
Di sisi lain, Lebaran membuka peluang mendorong digitalisasi ekonomi lokal. Arus mudik yang masif bisa dimanfaatkan untuk memperluas pasar bagi UMKM. Dengan teknologi, transaksi ekonomi bisa terus hidup, bahkan setelah masa lebaran usai.
Dalam kerangka lebih luas, momentum ini relevan dengan cita-cita Indonesia mencapai pertumbuhan tinggi dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Target pertumbuhan delapan persen butuh fondasi kuat. Lebaran harus jadi pengungkit, bukan ritual tahunan belaka.
Pada akhirnya, Idul Fitri adalah cermin. Ia memantulkan kondisi riil ekonomi masyarakat: seberapa kuat daya beli, seberapa merata distribusi manfaatnya, dan seberapa tangguh kita menghadapi tekanan global. Peningkatan aktivitas ekonomi memang memberi secercah optimisme. Tapi optimisme itu harus dijaga dengan kebijakan yang tepat, agar tak berubah jadi euforia sesaat.
Lebaran bukan solusi ajaib. Ia adalah momentum. Nilainya akan ditentukan oleh bagaimana kita mengelolanya. Jika diatur dengan baik, momen ini bisa jadi pijakan untuk membangun ekonomi yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Di dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan memanfaatkan momentum seperti inilah kunci untuk tetap bergerak maju.
") Perdana Wahyu Santosa adalah Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific.
Artikel Terkait
Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 9 Orang, 6 di Antaranya Pengungsi Palestina
Damkar Tanjung Uban Peringatkan Bahaya Karhutla di Musim Angin Kencang
Kemhan dan TNI Siapkan Efisiensi BBM untuk Antisipasi Gejolak Global
EMAS Ajukan Dual Listing ke Bursa Hong Kong Usai IPO di BEI