Jakarta - Idul Fitri 1447 H tiba di tengah situasi global yang suram. Ketegangan geopolitik, terutama antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, masih membayangi. Gejolak ini tak hanya mengoyak kepercayaan pasar, tapi juga mendorong harga energi naik. Di tengah semua itu, Indonesia menyambut Lebaran 2026 dengan sikap yang realistis. Bukan pesimis, tapi lebih ke arah kehati-hatian yang matang.
Meski dunia tak pasti, Lebaran tetap punya kekuatan tersendiri bagi perekonomian kita. Sudah puluhan tahun, momen ini berfungsi sebagai mesin redistribusi ekonomi yang paling alami. Mudik bukan cuma soal pulang kampung. Itu adalah pergerakan uang yang menjangkau hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) pernah menunjukkan angka yang menarik. Mudik berkontribusi sekitar 1,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional per tahun. Konsumsi rumah tangga bahkan bisa melonjak 15 sampai 20 persen dibanding bulan biasa. Angka-angka itu membuktikan betapa tradisi sosial ini punya dampak ekonomi yang luar biasa besar.
Dampaknya terasa nyata di daerah. Bagi pedagang kaki lima dan pengusaha UMKM, Lebaran adalah peluang emas. Aktivitas ekonomi menggeliat, transaksi mengalir deras, dan sektor informal mendapat napas segar. Bahkan, bagi banyak keluarga, momen ini sering jadi penopang setelah setahun penuh berjuang.
Tapi, ceritanya tak selalu mulus. Lebaran tahun ini datang dengan tekanan yang lebih kompleks. Kita bisa belajar dari pengalaman tahun lalu. Daya beli yang melemah akibat gelombang pemutusan hubungan kerja ternyata bisa menggerus potensi ekonomi Lebaran. Perputaran uang saat itu turun signifikan. Pelajaran berharga: momentum musiman tak akan maksimal tanpa fondasi daya beli yang kuat.
Sekarang, tekanannya datang dari arah lain, tapi tak kalah serius. Indonesia seolah menghadapi badai sempurna: gejolak global, tekanan nilai tukar, dan ancaman kenaikan harga energi pasca-lebaran. Di dalam negeri, harga pangan lagi-lagi meroket. Cabai naik 25–40 persen, daging ayam 15–20 persen, telur ayam 10–15 persen. Kenaikan ini paling menyakitkan bagi keluarga berpendapatan rendah, yang justru sangat berharap pada Lebaran.
Inflasi pun jadi momok yang tak bisa diabaikan. Pada Februari 2026, inflasi tahunan tercatat 4,76 persen, dengan inflasi pangan bergejolak di angka 4 persen. Artinya, tekanan harga sudah muncul sebelum puncak konsumsi Lebaran tiba.
Euforia THR yang Tergerus
Di saat harga melambung lebih cepat daripada pendapatan, nilai riil Tunjangan Hari Raya (THR) pun menyusut. Tambahan uang di tangan tak lagi sebanding dengan daya beli yang diperlukan. Inilah jebakan inflasi Lebaran yang sering luput. Lonjakan konsumsi yang mestinya menggerakkan ekonomi, malah berpotensi memicu tekanan inflasi lebih tinggi nantinya.
Pertanyaan besarnya bukan cuma berapa besar uang yang berputar. Tapi, siapa yang benar-benar menikmatinya? Dan berapa lama dampak itu bertahan?
Artikel Terkait
Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 9 Orang, 6 di Antaranya Pengungsi Palestina
Damkar Tanjung Uban Peringatkan Bahaya Karhutla di Musim Angin Kencang
Kemhan dan TNI Siapkan Efisiensi BBM untuk Antisipasi Gejolak Global
EMAS Ajukan Dual Listing ke Bursa Hong Kong Usai IPO di BEI