Namun begitu, yang paling menyentuh hati Entin bukan cuma soal uang. Matanya berkaca-kaca ketika bicara tentang anaknya. “Alhamdulillah sangat terbantu, apalagi anak sekolah di SR (Sekolah Rakyat). Ibu enggak punya biaya ya buat anak sekolah,” katanya, suara bergetar. “Alhamdulillah ada bantuan dari Bapak Presiden, akhirnya anak ibu sekolah lagi.”
Kisah Entin ini bukan sekadar cerita individu. Ia jadi contoh nyata bagaimana integrasi program antara pemberdayaan ekonomi dan akses pendidikan gratis bisa memberi dampak riil. Dampak yang memutus mata rantai kemiskinan, dimulai dari sebuah warung kecil di Cihampelas.
Di tempat lain, anak Entin, Diki Maulana (16), yang kini berseragam SRT 17 Cimahi, punya tekad kuat. Ia berjanji akan memanfaatkan kesempatan sekolahnya sebaik mungkin untuk menggapai cita-cita.
Tak lupa, ia menyampaikan pesan untuk orang tuanya. “Pesan dari saya untuk kedua orang tua saya, semoga tetap sehat, panjangkan umurnya, dan selalu tetap berjuang,” kata Diki.
Sebuah harapan sederhana dari seorang anak, yang kini punya jalan lebih terbuka untuk mengubah nasib keluarganya.
Artikel Terkait
Jumat Agung dan Paskah 2026 Jatuh Awal April, Siapkan Long Weekend
AS Siap Kerahkan Ribuan Pasukan Elite ke Timur Tengah untuk Operasi Melawan Iran
Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 9 Orang, 6 di Antaranya Pengungsi Palestina
Damkar Tanjung Uban Peringatkan Bahaya Karhutla di Musim Angin Kencang