Rencana Pentagon untuk mengirim pasukan tambahan ke Timur Tengah mulai mengemuka. Menurut laporan Wall Street Journal yang dirilis Selasa (24/3) waktu setempat, satu brigade tempur dari Divisi Lintas Udara ke-82 pasukan elite Angkatan Darat AS akan segera dikerahkan. Tujuannya, mendukung operasi militer Amerika yang sedang berlangsung melawan Iran.
Laporan WSJ itu, seperti dikutip Anadolu Agency pada Rabu (25/3/2026), bersumber dari dua pejabat pemerintahan AS. Mereka menyebut perintah tertulis untuk pengerahan itu diperkirakan bakal turun dalam hitungan jam.
Soal jumlahnya, satu brigade dari divisi legendaris itu biasanya terdiri dari sekitar 3.000 prajurit. Namun, ada juga informasi lain yang beredar.
Reuters, misalnya, melaporkan hal serupa. Bedanya, media itu menyebut angka pasukan tambahan yang akan dikirim antara 3.000 hingga 4.000 personel. Beberapa sumber pejabat AS yang diwawancarai Reuters enggan merinci lokasi penempatan atau waktu kedatangan pasukan tersebut di kawasan Timur Tengah.
Yang jelas, Divisi Lintas Udara ke-82 punya reputasi untuk respons yang cepat. Mereka bisa bergerak dalam 18 jam setelah perintah diberikan. Kemampuan andalannya? Serangan parasut.
Ini tentu akan menambah signifikan keberadaan militer AS di region tersebut. Yang menarik, penguatan militer ini terjadi di saat yang sama ketika Presiden Donald Trump membicarakan kemungkinan kesepakatan dengan Iran. Perang sendiri sudah berkecamuk sejak akhir Februari lalu.
Lalu, siapa yang berwenang menjelaskan soal ini?
Militer AS tampaknya menyerahkan jawabannya ke Gedung Putih. Tapi dari pihak Gedung Putih justru bilang, semua pengumuman resmi harus datang dari Pentagon.
Jadi, situasinya masih berembun. Semua menunggu kepastian dari Pentagon sendiri.
Artikel Terkait
Kadin Optimistis Arus Investasi Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global
Bocah 4 Tahun di China Selamat Usai Jatuh dari Lantai 11, Dokter Sempat Prediksi Peluang Hidup 5 Persen
Presiden Prabowo Bernyanyi Bersama Siswa di SMKN 2 Talaud, Pulau Miangas
ISEI Riau Desak Reformulasi DBH Sawit, Nilai Porsi 4 Persen untuk Daerah Tak Adil