Perang belum usai. Begitulah kira-kira inti pernyataan keras dari Mohsen Rezaei, penasihat militer senior Ayatollah Mojtaba Khamenei. Dalam pidatonya yang disiarkan televisi nasional, Senin lalu, Rezaei menegaskan bahwa konflik dengan Amerika Serikat dan Israel akan terus berlanjut. Menurutnya, pertempuran baru akan berhenti jika Iran mendapat kompensasi penuh atas segala kerusakan yang mereka derita.
“Kita melihat bahwa angkatan bersenjata kita melakukan operasi dan aktivitas dengan kuat,” ujar Rezaei dengan nada percaya diri.
“Proyek kepemimpinan kita, dengan pemilihan pemimpin baru, telah berada di bawah kendalinya.”
Namun begitu, ada klaim menarik yang dilontarkannya. Rezaei menyebut bahwa sebenarnya perang ini “pada dasarnya telah berakhir” lebih dari seminggu lalu. Amerika Serikat, katanya, sudah siap menghentikan tembak-menembak dan mencari gencatan senjata. Tapi ada pihak yang ngotot: Benjamin Netanyahu. Perdana Menteri Israel itulah yang didorong-dorong untuk melanjutkan pertikaian.
Setelah hari kelima belas konflik, AS menurut Rezaei sudah paham betul. Mereka sadar tidak ada jalan menuju kemenangan di medan ini. Itu klaimnya.
Di sisi lain, tuntutan dari dalam negeri juga tak kalah keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, lewat sebuah unggahan di platform X, menyuarakan hal serupa. Rakyat Iran, tulisnya, menuntut “hukuman yang setimpal dan penuh penyesalan” terhadap para agresor. Suara itu sekaligus menggarisbawahi tekanan politik yang harus dihadapi pemerintah.
Kembali ke Rezaei, ia bersumpah perang akan terus berjalan sampai semua sanksi ekonomi dicabut. Tak cuma itu. Iran juga meminta jaminan internasional yang mengikat secara hukum untuk mencegah campur tangan AS di wilayah mereka. Itu harga mati.
Jadi, jalan buntu. Pernyataan-pernyataan dari Tehran ini jelas mempertegas posisi mereka yang tak mau mengalah. Sementara di lapangan, situasi masih tegang dan belum ada tanda-tanda jeda yang riil.
Artikel Terkait
Survei IDM: 75,1 Persen Publik Puas dengan Kinerja Polri dalam Pemberantasan Judi hingga Narkoba
KPK Usut Dugaan Aliran Uang dalam Penerbitan Sertifikat K3 di Kemenaker
Yusril Harap Sidang Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS Berjalan Profesional dan Objektif
Imigrasi Dalami Kemungkinan Keterlibatan WNI dalam Jaringan Penipuan Daring 210 WNA di Batam