Program seperti ini sebenarnya punya visi yang lebih dalam. Bukan cuma sekadar memenuhi kebutuhan pokok, tapi juga menjaga agar lansia tetap punya peran dan fungsi sosial. Mereka tidak boleh terpinggirkan. Dalam kasus Mas Amah, itu terwujud nyata: dari warung reyotnya, dia bukan cuma mencari nafkah, tapi juga merawat dan membesarkan cucunya dengan penuh kasih.
“Alhamdulillah, dengan bantuan ini saya bisa usaha lagi,” ujar Mas Amah suatu hari di akhir Maret lalu.
Suaranya lirih, tapi terdengar jelas. “Mudah-mudahan cukup untuk kebutuhan saya dan cucu.”
Memang, langkahnya mungkin sudah tak lagi gesit. Tapi semangatnya membara. Dari balik meja warung yang sederhana, Mas Amah membuktikan satu hal: usia tua bukan akhir dari segalanya. Di sana, di antara bungkusan jajanan dan karung beras, dia terus menyalakan harapan. Untuk dirinya, dan terlebih untuk masa depan Rendi, cucunya yang tercinta.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Makassar 24 Maret 2026: Subuh 04.51 WITA, Isya 19.23 WITA
Pengelola Terapkan Sistem Buka-Tutup Rest Area KM 52B untuk Antisipasi Macet Jakarta-Cikampek
Rudal Iran Tembus Pertahanan Udara Israel di Dekat Fasilitas Nuklir Dimona
Rudal Iran Tembus Sistem Davids Sling, Lukai Puluhan di Israel Selatan