Narasi mengerikan juga pernah diungkap Ali Larijani, mantan pejabat tinggi Iran. Dalam unggahan 12 Maret sebelum ia dilaporkan tewas dalam serangan gabungan ia menggambarkan skenario suram: penghancuran kapasitas listrik Iran bisa melemparkan kawasan ke dalam kegelapan hanya dalam waktu setengah jam.
Semua ini berawal dari serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari. Serangan itu dikabarkan menewaskan sejumlah nama besar, termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei, plus beberapa komandan militer dan warga sipil. Iran pun tak mau dipukul tanpa jawaban.
Mereka melancarkan serangan balasan besar-besaran. Islamic Revolutionary Guard Corps mengklaim, gelombang serangan ke-73 mereka telah menyebabkan lebih dari 200 orang tewas dan terluka di Israel. Sasaran mereka beragam, mulai dari fasilitas militer, pusat keamanan di kota-kota seperti Arad, Dimona, hingga Eilat.
Bahkan pangkalan militer AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab juga kena. Tak cuma itu, militer Iran juga disebut menyerang Bandar Udara Ben Gurion menggunakan drone Arash-2 buatan lokal, seperti dilaporkan kantor berita resmi IRNA.
Dengan situasi seperti ini, kekhawatiran global pun meluas. Fokusnya bukan cuma pada konflik itu sendiri, tapi pada stabilitas pasokan energi dunia. Jika minyak terganggu, gejolak harga di pasar internasional bisa jadi konsekuensi berikutnya yang harus ditanggung semua orang.
Artikel Terkait
Pemain Inti Timnas Indonesia Mulai Berdatangan Jelang FIFA Series 2026
ASDP Ambon Perpanjang Jam Layanan Kapal Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran
Juara Dunia MotoGP Joan Mir Prediksi Veda Ega Pratama Bisa Kompetitif di Moto3 2026
Presiden Prabowo Telepon Sejumlah Pemimpin Muslim Ucapkan Selamat Idulfitri