Bagi mereka yang tinggal di luar negeri, Lebaran sering berarti mencari ‘keluarga baru’. Banyak diaspora di kota-kota kecil Swedia rela menempuh perjalanan ratusan kilometer demi bisa sampai ke Stockholm. Ambil contoh Alivia. Dia berangkat naik kereta pukul lima pagi dari Arblom, menempuh perjalanan tiga setengah jam.
Tak hanya dia. Yassirullah, diaspora lain di Stockholm, punya cerita serupa.
"Di kota kecil, komunitas Indonesia nyaris tidak ada. Jadi datang ke Stockholm itu rasanya seperti mudik beneran. Meski harus pakai tabungan soalnya biaya transportasi buat pelajar itu nggak murah tapi kebersamaan ini sangat berharga," ungkapnya.
Selain soal biaya, urusan administrasi dan logistik juga bikin banyak orang memilih bertahan. Risma, salah satu diaspora di Swedia, bilang jadwal libur sekolah anak dan ketidakpastian penerbangan jadi pertimbangan besar.
"Kita nggak bisa izinin anak bolos sekolah lebih dari dua minggu. Belum lagi banyak berita soal pembatalan penerbangan karena kendala teknis atau blokade jalur udara. Jadi, menetap di Swedia aja pilihan paling realistis tahun ini," jelas Risma.
Begitulah. Meski jauh dari tanah air, berbagai keterbatasan itu ternyata tak mengikis makna Lebaran. Tradisi tetap dijaga, tali persaudaraan justru makin dikencangkan di perantauan.
Artikel Terkait
Israel Lancarkan Serangan Besar-besaran ke Lebanon Selatan, Presiden Aoun Peringatkan Ancaman Invasi
Buka Tutup Akses MBZ Diterapkan Lagi Atasi Kemacetan Mudik
Arus Mudik Lebaran Belum Reda, 197 Ribu Kendaraan Masih Tinggalkan Jabotabek di Hari H
Polisi Prediksi Dua Gelombang Puncak Arus Balik Libur Panjang