Agustinus Adisutjipto: Membangun Sayap Bangsa dari Pesawat Rongsokan Jepang

- Minggu, 22 Maret 2026 | 08:20 WIB
Agustinus Adisutjipto: Membangun Sayap Bangsa dari Pesawat Rongsokan Jepang

Agustinus Adisutjipto tercatat dalam sejarah sebagai pilot pesawat tempur pertama Indonesia. Tapi kisahnya lebih dari sekadar gelar. Ini tentang seorang pemuda yang nekat mengejar cita-citanya di angkasa, meski awalnya ditentang sang ayah. Modal awalnya pun sederhana: memanfaatkan pesawat-pesawat rongsokan peninggalan Jepang untuk membangun kekuatan udara negeri ini.

Lahir di Salatiga pada 4 Juli 1916, Tjip begitu ia biasa disapa adalah anak sulung dari empat bersaudara. Di luar dunia penerbangan, ternyata ia punya beragam ketertarikan. Hobinya membaca buku-buku filsafat kemiliteran. Tapi ia juga suka hal-hal yang lebih fisik, seperti main sepak bola atau mendaki gunung.

Keinginan untuk terbang sudah menggebu sejak ia lulus MULO. Saat itu, ia sangat ingin ikut tes masuk Sekolah Penerbangan di Kalijati. Sayangnya, ayahnya tidak setuju. Alih-alih mendukung, sang ayah justru mendesaknya untuk masuk AMS di Semarang.

Tjip pun menuruti. Ia lulus dari AMS pada 1936 dengan nilai yang bagus. Karena merasa jalan buntu, ia kembali mengikuti keinginan ayahnya dan mendaftar ke Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa yang rajin. Namun, di benaknya, mimpi untuk menjadi penerbang tak pernah padam. Itu terus membayang-bayanginya.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan keluarganya, Tjip nekat mengikuti tes Militaire Luchtvaart Opleidings School di Kalijati. Hasilnya? Ia lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Melihat tekad dan prestasi putranya itu, akhirnya sang ayah luluh dan memberikan restu.

Hebatnya, masa pendidikan yang seharusnya tiga tahun, berhasil ia selesaikan hanya dalam dua tahun. Bersama sembilan siswa Indonesia lainnya, Tjip meraih pangkat Letnan Muda calon penerbang. Di Kalijati pula, ia bertemu dengan S. Soerjadarma, seorang perwira lulusan Akademi Militer Breda. Pertemuan itu menjadi awal persahabatan dan kerja sama panjang mereka untuk membangun Angkatan Udara Republik Indonesia kelak.

Merangkai Kekuatan dari Rongsokan

Karier penerbangannya pun dimulai. Tahun 1939, ia ditempatkan di Skadron Pengintai dan bahkan diangkat sebagai Ajudan Kolonel Clason, pejabat AU KNIL di Jawa. Posisi itu ia pegang hingga Jepang mendarat pada 1942.

Saat revolusi bergolak, Adisutjipto berpindah ke Yogyakarta. Berdasarkan maklumat pemerintah 5 Oktober 1945, dibentuklah TKR Bagian Penerbangan. Tugasnya berat: membangun dan menyusun penerbangan militer dari nol, sekaligus merintis penerbangan sipil.

Situasinya sangat sulit. Pabrik pesawat tidak ada. Satu-satunya aset hanyalah pesawat-pesawat bekas Jepang yang sudah nyaris rongsokan dan teknologinya asing. Tapi di situlah keahlian Tjip bersinar. Dengan ketekunan dan kecerdasannya, ia dan kawan-kawan berhasil memanfaatkan peninggalan perang itu menjadi modal berharga.

Akhir Perjalanan di Udara Yogyakarta

Namun begitu, perjuangannya harus terhenti secara tragis. Peristiwa itu terjadi pada 29 Juli 1947. Pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpanginya, membawa muatan obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya, ditembak jatuh oleh pesawat Kittyhawk Belanda.

Menurut sejumlah saksi, pesawat Dakota itu ditembaki bertubi-tubi. Ia kehilangan ketinggian dan terpaksa melakukan pendaratan darat di selatan Yogyakarta. Nasib nahas tak terelakkan. Pesawat itu membentur pohon, patah menjadi dua, dan langsung terbakar. Hanya bagian ekornya yang masih utuh. Seluruh awak dan penumpang tewas, kecuali satu orang yang kebetulan duduk di bagian ekor yang selamat.

Jasanya bagi bangsa tak pernah terlupakan. Sebagai penghormatan, Adisutjipto dianugerahi pangkat kehormatan Laksamana Muda Udara. Di tempat pesawatnya jatuh, didirikan sebuah tugu peringatan. Nama pangkalan udara Maguwo pun diubah menjadi Pangkalan Udara Adisutjipto, berdasarkan keputusan resmi Kasau. Namanya tetap mengudara, dikenang sebagai perintis yang membangun sayap bangsa dari keterbatasan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar