Fajar di Teheran pada Sabtu, 21 Maret 2026, punya nuansa yang lain. Udara pagi itu tak hanya membawa kesejukan, tapi juga ketegangan. Ribuan umat Muslim Iran berkumpul untuk menunaikan salat Idulfitri, merayakan kemenangan setelah Ramadan, di tengah situasi yang sama sekali tidak biasa: mereka sedang berada dalam keadaan perang.
Kebanyakan negara muslim lain sudah merayakannya sehari sebelumnya. Tapi bagi Iran, Idulfitri 1447 Hijriah ini benar-benar istimewa dan berat. Perang dengan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai sejak akhir Februari masih terus berlangsung. Bahkan, ibu kota mereka masih kerap menjadi sasaran bombardir.
Kerumunan jemaah memadati kawasan Masjid Agung Imam Khomeini, yang namanya diambil dari pendiri republik Islam itu. Ruang dalam masjid tak cukup menampung semua orang. Akibatnya, banyak yang terpaksa melaksanakan salat di luar, di pelataran dan area sekitarnya.
Televisi pemerintah tetap menyiarkan langsung suasana itu. Layar-layar mereka menampilkan gambar kerumunan yang padat di sekitar masjid, sebuah pemandangan yang penuh makna di tengah ancaman serangan yang selalu mengintai.
Artikel Terkait
Mudik Lebaran 2026: Penumpang Angkutan Umum Tembus 10 Juta, Naik 9,23 Persen
Prabowo Buka Istana untuk Silaturahmi, Disambangi SBY dan Tokoh Bangsa
Idulfitri di Tengah Konflik: Khidmat di Mashhad, Larangan Salat di Al-Aqsa
Kapolres Serang Penuhi Janji, Bagikan Opor dan Rendang untuk Tahanan Saat Lebaran