“Beliau memberikan apresiasi karena sudah mendekati normalitas,” kata Tito.
Namun begitu, pekerjaan rumah masih menumpuk. Tito mengakui, masih ada beberapa persoalan yang harus diselesaikan. Perbaikan permanen untuk jalan dan jembatan, normalisasi sungai, hingga penyelesaian fasilitas pendidikan. Target terdekatnya adalah memindahkan 26 kepala keluarga yang masih tinggal di tenda pengungsian di Aceh Tamiang ke hunian yang lebih layak.
“Setelah Lebaran akan kita eksekusi,” sambungnya dengan nada tegas.
Tak cuma itu. Satgas PRR juga akan faskan pada pemulihan lahan produktif warga. Rehabilitasi tambak dan sawah yang rusak di sejumlah wilayah menjadi agenda berikutnya. “Kita juga akan bekerja keras untuk proses huntap, baik yang insitu oleh BNPB maupun yang komunal,” jelas Tito.
Dalam kunjungan yang penuh makna ini, Prabowo dan Tito tak sendirian. Mereka didampingi sejumlah pejabat tinggi, mulai dari Kepala BNPB Letjen Suharyanto, Kepala Staf TNI AD Jenderal Maruli Simanjuntak, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, hingga Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Sebuah gambaran bahwa penanganan bencana memang butuh kolaborasi semua lini.
Artikel Terkait
AC Milan Kembali ke Posisi Dua Usai Menang Sengit 3-2 atas Torino
Puan Maharani Sinyalkan Pertemuan Lanjutan PDIP dengan Presiden Prabowo
Auxerre Tumbangkan Brest 3-0 Meski Bermain 10 Orang Sejak Menit Keenam
Diaspora Indonesia di China Galang Dana untuk Korban Bencana Aceh Saat Lebaran