Di sisi lain, perhatian juga diberikan kepada korban. Zakat fitrah tahun ini secara khusus difokuskan untuk membantu para janda yang terdampak musibah. “Sebagai pendukung untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, dalam zakat fitrah itu juga difokuskan bagi janda-janda yang terkena dampak daripada bencana,” tambah Aris.
Usai salat, panorama di sekitar lapangan dan bantaran sungai mengingatkan betapa parahnya bencana yang terjadi. Material batu berukuran besar masih berserakan, seolah proses pemulihan belum benar-benar bergerak. Di seberang sungai, sebuah rumah tampak luluh lantak. Dindingnya jebol, atapnya hilang, dan ruangan dalamnya dipenuhi bebatuan.
Kondisi serupa dialami belasan rumah lainnya. Data resmi dari Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat menyebutkan, dua unit rumah di Nagari Maninjau hanyut dan hilang. Sementara itu, 115 unit lainnya mengalami kerusakan dengan taksiran kerugian mencapai Rp44,8 miliar. Angka yang sungguh tidak kecil.
Namun begitu, di tengah kepiluan itu, semangat untuk merayakan kemenangan tetap hidup. Suara takbir berkumandang, ucap salam dan maaf bersahutan. Mereka menunjukkan, bencana boleh mengubah tempat, tetapi tidak menghalangi tekad untuk bersyukur dan bersatu.
Artikel Terkait
Arkeolog Hiram Bingham dan Ekspedisi Yale yang Mengungkap Machu Picchu
Ribuan Peziarah Padati TPU Tanah Kusir Usai Salat Idul Fitri
Ivan Gunawan Salat Id di Masjid yang Dibangunnya di Depok
Kebakaran Pabrik di Daejeon Tewaskan 11 Pekerja, Puluhan Luka-luka