Suasana pagi Idul Fitri di Nagari Maninjau, Agam, terasa berbeda tahun ini. Meski langit cerah, jejak bencana masih terlihat jelas di mana-mana. Tumpukan batu besar memenuhi aliran sungai, tanah masih basah, dan beberapa rumah di tepian tampak porak-poranda. Di tengah kondisi itu, ratusan warga justru berkumpul dengan khidmat di Masjid Raya Maninjau untuk menunaikan salat Id.
Lokasi salat biasanya dipusatkan di lapangan SMP Negeri 1 Tanjung Raya. Tapi rencana itu berubah. “Lapangan sekarang dalam keadaan berbatu dan berpasir,” jelas Aris Munandar, salah seorang pengurus masjid.
“Akhirnya, ketua koordinator daripada Hari Besar Islam Kanagarian Maninjau memutuskan pelaksanaan salat Idul Fitri dipusatkan di masjid,” ujarnya.
Keputusan itu diambil setelah hujan deras mengguyur sehari sebelumnya. Lapangan yang berjarak cuma seratus meter dari sungai itu pun tak lagi layak. Masjid, yang letaknya sekitar 700 meter dari aliran sungai penuh batu, menjadi pilihan terbaik.
Untuk menampung jemaah, pengurus membuka lantai dua untuk jemaah perempuan. Karpet juga digelar di halaman. Aris memperkirakan sekitar 500 orang hadir. Jumlah itu terpantau lebih sedikit dari biasanya. Selain karena trauma pascabencana, waktu pelaksanaan salat Id di daerah itu terbagi dua: ada yang Jumat, ada yang Sabtu.
Artikel Terkait
Arkeolog Hiram Bingham dan Ekspedisi Yale yang Mengungkap Machu Picchu
Ribuan Peziarah Padati TPU Tanah Kusir Usai Salat Idul Fitri
Ivan Gunawan Salat Id di Masjid yang Dibangunnya di Depok
Kebakaran Pabrik di Daejeon Tewaskan 11 Pekerja, Puluhan Luka-luka