Memang, jika dilihat dari awal mula konflik, posisi Inggris tampak bergeser. Sejak serangan intensif AS dan Israel dimulai akhir Februari lalu, London perlahan beralih. Dari awalnya menolak memberikan akses pangkalan, kini mereka berada dalam keadaan integrasi logistik dan kinetik yang cukup mendalam dengan sekutunya.
Perdana Menteri Keir Starmer berusaha meredam kekhawatiran. Pada hari Senin, dia menegaskan komitmen untuk tidak terlibat dalam perang yang lebih luas.
Namun begitu, peran Inggris yang kian meluas ini memantik perdebatan sengit. Banyak yang mempertanyakan, apakah perbedaan antara "membela diri" dan "terlibat perang" masih bisa dipertahankan? Garisnya terasa semakin samar.
Konflik di Timur Tengah sendiri memang meluas setelah serangan gabungan Israel-AS pada 28 Februari. Serangan itu dikabarkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gelombang serangan drone dan rudal ke berbagai titik, dan secara efektif menutup Selat Hormuz bagi banyak kapal.
Ini masalah besar. Selat Hormuz bukan sembarang jalur air. Ia adalah jalur transit minyak utama dunia, yang biasanya melayani sekitar 20 juta barel minyak per hari. Sekitar seperlima dari perdagangan gas alam cair global juga melewati selat sempit ini. Gangguan di sini dampaknya langsung terasa ke seluruh penjuru dunia.
Artikel Terkait
Gubernur Jateng Salat Idulfitri di Simpanglima, Ajak Warga Jaga Persatuan
Mendikdasmen: Tujuh Kebiasaan Hebat Harus Tetap Berjalan Saat Libur Lebaran
Iran Siap Bantu Kapal Jepang Lewati Selat Hormuz, Bantah Isu Penutupan
Ancol dan TMII Buka di Hari Pertama Lebaran, Ragunan dan Monas Libur