Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, tibalah momen yang dinanti: Idul Fitri. Tanggal 1 Syawal ini ditandai dengan ibadah salat Id yang dilaksanakan serentak oleh umat Islam di seluruh penjuru negeri. Suasana paginya selalu berbeda, penuh semangat dan kebahagiaan.
Salat Idul Fitri sendiri terdiri dari dua rakaat. Di Indonesia, waktu pelaksanaannya umumnya dimulai sekitar pukul setengah tujuh pagi, meski bisa saja sedikit berbeda tergantung keputusan setempat.
Nah, sebelum melangkah ke lapangan atau masjid, penting untuk menyiapkan niat. Seperti dijelaskan dalam berbagai sumber, termasuk rujukan dari Majelis Ulama Indonesia, niat ini dibedakan antara yang menjadi imam dan makmum.
Untuk imam, bacaannya adalah:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatan li'idil fiṭri rak'ataini imāman lillāhi ta'ālā.
Artinya kurang lebih: "Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai imam karena Allah."
Sementara untuk makmum, lafaznya sedikit berbeda:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatan li'idil fiṭri rak'ataini ma'mūman lillāhi ta'ālā.
Di sini, kata kuncinya adalah "ma'mūman" yang berarti sebagai makmum.
Bagaimana Tata Caranya?
Pertama-tama, tentu saja niat. Ini adalah rukun, jadi harus ada di dalam hati. Bisa diucapkan pelan atau cukup diingatkan dalam batin sebelum takbir.
Langkah kedua adalah Takbiratul Ihram. Seperti salat biasa, dimulai dengan mengangkat tangan dan mengucapkan "Allahu Akbar" sebagai pembuka.
Setelah itu, ada doa iftitah. Hukumnya sunah, tapi sangat dianjurkan. Bacaannya panjang, intinya mengesakan Allah dan menyerahkan segala ibadah hanya kepada-Nya. Bunyinya kira-kira begini:
إِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ...
Inni wajjahtu wajhiya lilladzī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfan musliman wa mā anā minal-musyrikīn...
Nah, inilah yang membedakan salat Id dengan salat biasa. Usai iftitah, sebelum membaca Al-Fatihah, kita disunahkan untuk takbir lagi sebanyak tujuh kali di rakaat pertama. Di antara tiap takbir, dianjurkan membaca dzikir pujian.
Banyak ulama menganjurkan lafaz dzikirnya sederhana saja:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.
Intinya, memuji kebesaran Allah. Setelah rangkaian takbir tambahan ini selesai, barulah salat dilanjutkan seperti biasa: baca Al-Fatihah, surat pendek, rukuk, sujud, dan seterusnya.
Di rakaat kedua, setelah takbir bangun dari sujud, kita takbir lagi lima kali sebelum membaca Al-Fatihah. Ritme ini yang memberi nuansa khusus pada salat hari raya. Menciptakan kesan khidmat sekaligus penuh kemenangan setelah sebulan berjuang.
Semoga kita semua bisa melaksanakannya dengan khusyuk. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Artikel Terkait
Kebakaran Mal di Kota Andisheh Iran Tewaskan 8 Orang, 36 Luka-luka
Warga Tewas Tertemper Kereta Saat Coba Melerai Tawuran di Cipinang
Empat Dokter Internship Meninggal dalam Tiga Bulan, Pakar Desak Evaluasi Total Sistem Program Magang
Persija vs Persib Dipindah ke Samarinda, Suporter Tamu Dilarang Hadir