Bitcoin kembali tersendat. Setelah sempat melesat mendekati angka $76 ribu di hari Selasa, harga aset kripto terbesar itu kini terpangkas dan bergerak di sekitar level $70 ribu. Apa yang terjadi? Ternyata, sentimen pasar lagi-lagi diputar balik oleh isu makro, tepatnya dari hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang baru saja dirilis.
Pertemuan itu memberikan sinyal yang cukup jelas: kebijakan moneter Amerika Serikat masih ketat. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di rentang 3,50% hingga 3,75%. Tak cuma itu, mereka juga merevisi proyeksi inflasi untuk 2026 menjadi sekitar 2,7%. Angka itu lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Bagi para trader, ini adalah pesan bahwa likuiditas murah belum akan datang dalam waktu dekat.
Padahal, semangat pasar sebelumnya cukup membara. Arus dana masuk ke spot Bitcoin ETF mencapai $199,37 juta pada hari Selasa itu, mencatatkan aliran positif untuk hari ketujuh berturut-turut. Totalnya dalam sepekan bahkan tembus $1,16 miliar. Minat investor institusional jelas masih ada. Namun begitu, laporan FOMC seperti guyuran air dingin yang memicu koreksi sekitar 7-8%.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, melihat ini sebagai bentuk penyesuaian ekspektasi. "Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish," ujarnya.
Dia melanjutkan, "Pasar menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan. Alhasil, aliran dana ke aset berisiko tinggi seperti kripto jadi lebih terbatas. Tapi ini wajar, bagian dari dinamika pasar global yang terus berubah." Pernyataan itu dia sampaikan melalui siaran pers pada Sabtu, 21 Maret 2026.
(Ilustrasi pergerakan harga aset kripto. Foto: dok KBI)
Nasib Suku Bunga Tergantung Inflasi
Jerome Powell, sang Ketua The Fed, memang tidak memberikan harapan palsu. Dia menegaskan bahwa penurunan suku bunga sangat bergantung pada perkembangan inflasi ke depan. Situasinya makin rumit dengan konflik di Timur Tengah dan gejolak harga energi yang menambah ketidakpastian. Jadi, jangan berharap suku bunga turun dalam waktu singkat. Imbasnya, daya tarik aset spekulatif seperti kripto pun agak meredup.
Lalu, ke mana bitcoin akan melangkah? Untuk saat ini, pergerakannya terperangkap di kisaran $70 ribu. Level $70 ribu hingga $72 ribu jadi support krusial yang harus dipertahankan. Selama zona itu tidak tembus, harga berpeluang stabil dalam jangka pendek, didorong oleh serapan dana institusional yang masuk tadi. Tapi kalau sampai jebol, waspadai koreksi yang lebih dalam.
Menurut Antony, situasi seperti ini justru bisa jadi momen bagi investor untuk menata ulang strategi. Sentimen memang didikte faktor makro, tapi fase konsolidasi memberi kesempatan untuk berbenah dengan manajemen risiko yang lebih matang dan visi jangka panjang.
Di sisi lain, platform seperti Indodax tetap berkomitmen menyediakan ekosistem yang aman dan transparan. Mereka juga gencar mengedukasi lewat Indodax Academy, mendorong pentingnya riset mandiri sebelum berinvestasi. Strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) kerap disebut sebagai cara bijak menghadapi gejolak pasar.
Intinya, pasar kripto lagi bernapas sejenak. Volatilitas adalah makanannya sehari-hari. Yang penting tetap tenang, lakukan riset, dan jangan terbawa panik.
Artikel Terkait
Rekaman CCTV Ungkap Gerak-Gerik Kepala Desa Buncitan Sebelum Ditemukan Tewas Bunuh Diri
Bapanas Gencarkan Intervensi Pangan Jaga Stabilitas Harga, Tekan Inflasi Pasca-Lebaran
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Jakarta, 5 Mei 2026: Subuh Pukul 04.36 WIB, Magrib 17.49 WIB
40 Ormas Islam Laporkan Ade Armando, Abu Janda, dan Grace Natalie ke Bareskripol atas Dugaan Framing Ceramah Jusuf Kalla