Ia menyoroti beberapa hal. Pertama, sentimen belanja pemudik di kampung halaman cenderung lebih impulsif. Kedua, peningkatan kualitas produk UMKM mutlak diperlukan agar bisa bersaing. Dan yang tak kalah penting, dukungan pemerintah lewat distribusi logistik dan akses pembiayaan harus tetap terjaga di masa puncak.
“UMKM harus menangkap peluang ini. Pemerintah perlu memastikan rantai distribusi dan dukungan pembiayaan tetap optimal,” tambahnya.
Pariwisata Daerah Ikut Meroket
Di sisi lain, sektor pariwisata domestik juga diprediksi alami masa keemasan singkat. Fenomena “wisata keluarga” yang menyertai mudik membuat destinasi lokal dan hotel-hotel di daerah bakal penuh sesak.
Tapi, lonjakan ini bukan tanpa catatan. Standar keamanan dan kebersihan harus dijaga meski pengunjung membludak. Sinergi pusat dan daerah juga krusial koordinasi lintas sektor diperlukan untuk mengantisipasi kepadatan di titik-titik wisata unggulan.
Menuju Pemerataan
Menutup pernyataannya, Lamhot menekankan satu hal: kelancaran rekayasa lalu lintas dan layanan transportasi adalah kunci distribusi ekonomi. Semakin lancar mobilitas, semakin deras aliran modal ke daerah.
Ia optimistis. Jika dikelola dengan pelayanan prima, momentum Lebaran bisa menjadi titik penguatan sektor riil yang berkelanjutan. Sebuah pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah di seluruh Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka