Tantangan terbesar? Tentu saja pendanaan. “Tahun-tahun itu sulit sih,” akunya. “Tapi karena kami hidup di lingkungan yang sama dengan mereka, ya jalani saja apa adanya.”
Dukungan dari Seberang Lautan
Sejak awal, “Opa” dari Kanada menjadi penyokong utama. Dia menghubungkan yayasan dengan komunitas gereja di Kanada dan Belanda.
“Opa tinggal dengan kami sampai 2017 sebelum akhirnya meninggal. Tapi dukungan dari jaringan beliau terus mengalir,” ujar Yanrus.
Donatur dari sana bahkan kerap berkunjung. Bantuan terakhir di tahun 2025 adalah sebuah truk tangki air, solusi krusial untuk daerah yang selalu bermasalah dengan sumber air.
Kini, kompleks yayasan memiliki 15 bangunan campuran bangunan lama dan baru hasil bantuan pemerintah. Komunikasi dengan Pemda setempat, menurut Yanrus, cukup baik meski lokasi mereka sangat terpencil.
Gaji Polisi untuk Keluarga Besar
Bagi Yanrus, yayasan ini adalah hidupnya. Sebagian besar penghasilannya sebagai polisi dikembalikan untuk kebutuhan yayasan.
“Dari saya pribadi, ya apa yang ada itu yang dibagi. Tidak terhitung lagi jumlahnya,” katanya santai. “Semua anak-anak dan pengajar di sini adalah keluarga. Jadi rasanya bukan lagi mengeluarkan uang untuk orang lain.”
Untuk menopang kebutuhan, mereka juga menjalankan usaha toko kelontong. Toko itu sekaligus menjadi tempat magang bagi anak-anak yang sudah lulus SMA dan sedang menunggu kesempatan kuliah.
Belajar dari Tanah dan Ternak
Di lahan seluas hampir 3 hektare, anak-anak diajak langsung berinteraksi dengan alam. Mereka belajar beternak ayam, sapi, dan kambing.
“Ayam petelur kami pelihara sekitar 30 ekor, untuk konsumsi sekaligus bahan belajar. Kalau sapi dan kambing, itu seperti tabungan hidup. Kalau dijual, uangnya untuk kebutuhan mendesak yayasan,” jelas Yanrus.
Sebagian lahan adalah Hak Guna Usaha dari Pemda, sisanya dibeli perlahan-lahan dari warga sekitar.
Di balik semua kerja kerasnya, motivasi Yanrus tulus saja. Dia hanya ingin membantu. “Saya lihat kegiatan istri ini positif banget. Akhirnya, ya ikut terlibat. Sekarang rasanya sudah jadi satu keluarga besar. Tidak terpisahkan lagi.”
Dan dari desa terpencil di Sumba itu, keluarga besar itu terus menuliskan harapan, satu anak demi satu anak.
Artikel Terkait
OMG Beauty dan ParagonCorp Fasilitasi Mudik Gratis Ratusan Pemudik dari Monas
Nyepi dan Idulfitri Berdekatan di Maret 2026, Wakil Ketua MPR Soroti Momentum Kerukunan
Empat Personel TNI Ditahan Terkait Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Menteri Parekraf Apresiasi Banten Creative Fest, Soroti Anggaran Rp10 Triliun untuk Ekraf