Di sebuah desa terpencil bernama Tana Mbanas, Sumba Tengah, seorang anggota polisi bernama Aipda Yanrus Pake dan istrinya, Christina Sihombing, membangun sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan. Mereka mendirikan sebuah panti asuhan dan sekolah. Tujuannya sederhana namun mulia: membantu anak-anak di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) agar bisa mengenyam pendidikan layak.
Atas dedikasinya itu, nama Yanrus pun diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026 oleh Yustina Denga, seorang pengajar di yayasannya.
Ketika dikonfirmasi, Yustina yang dulunya juga anak asuh di yayasan itu menjelaskan lebih detail. Setelah lulus kuliah, dia memilih kembali untuk mengabdi.
“Yayasan kami bergerak di banyak bidang,” ujarnya. “Ada pendidikan TK, SD, SMP, panti asuhan, asrama. Kami juga buka taman baca dan pelayanan di desa-desa lain. Intinya, kami berusaha menjangkau apa yang bisa dijangkau.”
Hingga kini, sekitar 300 anak mendapat bantuan dari yayasan tersebut. Mayoritas adalah anak tidak mampu atau yang rumahnya jauh dari sekolah.
“Yang diterima di sini ya anak-anak yang benar-benar butuh. Ada juga sih satu dua orang tua yang meminta, tapi itu sangat sedikit,” jelas Yustina.
Menariknya, selain pelajaran formal, anak-anak juga diajari keterampilan hidup. Yanrus sendiri yang melatih.
“Pak Yanrus ngajarin mereka las dan bengkel. Bahkan anak yang punya keterbatasan pendengaran dan bicara sekarang sudah mahir las dan bisa mandiri. Untuk anak laki-laki, ada instalasi listrik,” ceritanya.
“Yang perempuan kami latih berkebun dan beternak ayam. Kami punya ayam petelur, pedaging, kampung, bahkan sapi. Ini penting, agar suatu hari nanti ketika mereka kembali ke orang tua, punya bekal untuk hidup.”
Soal pendanaan, operasional yayasan yang mencapai ratusan juta per bulan ditopang oleh donatur, usaha pribadi keluarga Yanrus, dan sedikit bantuan pemerintah daerah. “Satu hari saja kami bisa habiskan 450 kg beras,” ungkap Yustina.
Berawal dari Sebuah Sumur
Kisah pendirian yayasan ini berawal jauh sebelum Yanrus dan Christina menikah. Tahun 1999, Christina yang masih relawan bersama seorang warga Kanada yang dipanggil “Opa”, datang ke Tana Mbanas untuk membangun sumur bor. Desa itu sangat kesulitan air.
“Awalnya cuma mau dua tahun di sini,” kata Yanrus menirukan sang istri. Tapi Christina betah, malah jadi guru karena sekolah setempat kekurangan pengajar.
Pertemuan mereka terjadi tahun 2006, saat Yanrus ditugaskan di Polsek setempat. Dia tertarik dengan kegiatan belajar yang digagas Christina. Dari situ, mereka mulai bekerja sama menolong anak-anak kurang mampu.
“Kami belum menikah waktu itu. Tahun 2006 itu kami urus akta yayasannya, sekalian untuk panti asuhan,” kenang Yanrus.
Hubungan mereka pun berkembang dari pertemanan menjadi pernikahan di tahun 2013. Yayasan juga kian berkembang, dari sekadar PAUD akhirnya memiliki TK, SD, hingga SMP sendiri untuk mengakomodir anak-anak asuhnya.
Artikel Terkait
OMG Beauty dan ParagonCorp Fasilitasi Mudik Gratis Ratusan Pemudik dari Monas
Nyepi dan Idulfitri Berdekatan di Maret 2026, Wakil Ketua MPR Soroti Momentum Kerukunan
Empat Personel TNI Ditahan Terkait Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Menteri Parekraf Apresiasi Banten Creative Fest, Soroti Anggaran Rp10 Triliun untuk Ekraf