Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polisi, Pelapor Bukan Tokoh Besar

- Jumat, 09 Januari 2026 | 12:00 WIB
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polisi, Pelapor Bukan Tokoh Besar

Pandji Pragiwaksono Akhirnya Berurusan dengan Polisi

Ini bukan kabar bohong. Setelah sekian lama mengkritik dan meresahkan banyak kalangan, Pandji Pragiwaksono akhirnya benar-benar dilaporkan ke pihak berwajib. Yang menarik, pelapornya bukan tokoh besar yang selama ini jadi sasarannya bukan Gibran, bukan Rafi Ahmad, apalagi Kang Dedi Mulyadi. Melainkan seorang anak muda NU bernama Rizky Abdurrahman Wahid.

Nama belakangnya memang legendaris, tapi dia bukan Gus Dur. Rizky ini mengambil langkah berani melaporkan Pandji karena merasa komedian itu telah menghina Nahdlatul Ulama. Tuduhannya? Pandji dianggap menyeret NU, bahkan Muhammadiyah, ke ranah politik praktis dengan iming-iming konsesi tambang. Kritiknya mungkin terdengar sederhana, tapi bagi banyak orang, itu menusuk sampai ke ulu hati. Bukan sekadar kritik biasa, tapi dijadikan bahan tertawaan.

Lalu, bagaimana dengan anak muda Muhammadiyah? Apakah mereka akan ikut-ikutan melapor? Sejujurnya, kritik seperti itu saja sudah kurang tepat, apalagi dibungkus jadi candaan. Isu tambang sendiri memang sempat memecah belah di internal NU, tapi di Muhammadiyah sejauh ini masih relatif aman.

Nah, ini yang bikin penasaran. Mahfud MD pernah berjanji akan membela Pandji jika ada yang melaporkannya terkait wajah ngantuk Gibran. Waktu itu dia bilang tegas, "Itu bukan penghinaan!"

Tapi sekarang, dengan laporan dari anak muda NU ini, apakah Mahfud masih akan membela?

Laporan Rizky ini jelas di luar dugaan. Baik bagi Mahfud MD, apalagi bagi Pandji sendiri. Semua mengira yang akan turun tangan pasti tokoh-tokoh besar dengan pengaruh kuat. Nyatanya, yang muncul justru anak muda biasa. Kalau yang melapor tokoh besar, mungkin publik akan ramai-ramai membela Pandji. Tapi kalau yang melapor cuma anak muda, siapa yang akan peduli?

Harus diakui, Rizky Abdurrahman Wahid cukup cerdik mencari celah. Kali ini, Pandji benar-benar kena. Polisi pun punya alasan kuat untuk memeriksanya. Para pendukung tokoh-tokoh yang pernah di-"roasting" Pandji pasti akan mendukung langkah ini. Lagipula, Pandji sendiri bukanlah komika yang netral. Dia punya pilihan.

Coba lihat saja. Dari sekian banyak tokoh publik yang jadi bahan ledekannya, kenapa cuma Anies Baswedan yang luput? Apa memang tidak ada yang bisa di-"roasting" dari Anies? Banyak sebenarnya. Atau jangan-jangan, karena Pandji pernah jadi juru bicaranya, jadi dia pilih diam?

Di sisi lain, polisi mungkin juga tertarik untuk memeriksa kasus ini. Mumpung lagi viral dan sedang ramai dibicarakan. Ilmu kritik Pandji memang perlu diuji. Sekalian saja, ini bisa jadi ajang uji coba KUHP yang baru. Kalau Pandji kena, bisa jadi pelajaran berharga bagi komika lain. Apalagi dia sedang di puncak popularitas.

Pada akhirnya, melucu itu seharusnya tidak perlu sampai merendahkan atau menghina. Apalagi kalau sasarannya organisasi keagamaan yang usianya lebih tua dari republik ini, seperti NU dan Muhammadiyah. Kritik yang dibalut komedi mestinya bisa lebih satir, lebih cerdas. Tidak telanjang bulat seperti komentar seorang pengamat politik misalnya. Kurang lebih begitulah.

Penulis: Erizal

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar