Krisis Suksesi: Hanya 6% Generasi Muda Indonesia Berminat Pimpin Korporasi

- Selasa, 17 Maret 2026 | 19:40 WIB
Krisis Suksesi: Hanya 6% Generasi Muda Indonesia Berminat Pimpin Korporasi

Ada pergeseran besar yang sedang terjadi di dunia kerja kita. Sunyi, tapi dampaknya bisa sangat serius. Coba lihat ke atas: puncak piramida organisasi, yang dulu jadi impian banyak orang, kini mulai sepi peminat. Di Indonesia, ini bukan cuma soal gaya hidup. Fenomena ini sudah jadi ancaman nyata. Bagaimana nasib suksesi kepemimpinan di korporasi dan birokrasi kita nanti?

Generasi muda yang seharusnya bersiap mengambil alih, malah menunjukkan gejala "mogok" massal. Bagi mereka, kursi direktur atau jabatan manajer senior bukan lagi simbol kesuksesan. Justru sebaliknya. Posisi itu dilihat sebagai beban yang menggerogoti kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi.

Data terbaru cukup mencemaskan. Memang, Gen Z dan milenial diproyeksikan mendominasi 74 persen angkatan kerja pada 2030. Tapi, cuma sekitar 6 persen yang berminat menduduki posisi pimpinan puncak atau C-level. Ini jelas sinyal merah. Siapa yang akan memimpin organisasi kita sepuluh tahun lagi?

Alergi yang Disadari

Istilah kerennya, conscious unbossing. Intinya, pekerja muda dengan sadar menolak promosi. Kenapa? Mereka tak mau terjebak dalam siklus kelelahan kronis atau burnout. Bagi kelompok ini, work-life balance itu harga mati. Tidak bisa ditawar, sekalipun dengan tunjangan jabatan yang menggiurkan.

Fenomena ini makin jadi dengan tren micro-retirement. Daripada nunggu pensiun di usia 60, banyak profesional muda memilih jeda panjang bisa satu sampai enam bulan di tengah puncak karier. Tujuannya sederhana: memulihkan jiwa yang lelah dan mencari makna di luar rutinitas kantor.

Di wilayah urban Indonesia, tren ini melonjak hingga 50 persen dalam setahun. Di sisi lain, ekosistem pekerja lepas atau gig worker makin menarik. Bagi yang alergi hierarki kaku, jadi freelancer yang fleksibel lewat platform digital terasa jauh lebih bermartabat. Setidaknya, mereka tak perlu habiskan waktu berjam-jam untuk rapat yang seringkali tak produktif.

Janji yang Terasa Diingkari

Lalu, kenapa ini terjadi sekarang? Kalau pakai kacamata teori kontrak psikologis, jawabannya sederhana: ada janji yang dianggap dilanggar. Generasi muda merasa dedikasi total pada perusahaan tak lagi menjamin stabilitas atau kebahagiaan jangka panjang. Apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang mencekam.

Ada semacam kekecewaan kolektif terhadap model karier linear ala generasi sebelumnya. Saat kerja keras tak lagi berbanding lurus dengan kemampuan beli rumah atau ketenangan batin, ya wajar saja mereka memilih mundur secara psikis. Quiet quitting jadi pilihan yang paling masuk akal.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar