Krisis Suksesi: Hanya 6% Generasi Muda Indonesia Berminat Pimpin Korporasi

- Selasa, 17 Maret 2026 | 19:40 WIB
Krisis Suksesi: Hanya 6% Generasi Muda Indonesia Berminat Pimpin Korporasi

Nah, krisis ini jelas tak boleh dibiarkan. Sektor swasta dan publik harus segera menyesuaikan cara mereka mengelola talenta. Gaya kepemimpinan yang otoriter dan kaku harus diganti. Pendekatan yang lebih manusiawi dan fleksibel bukan lagi pilihan, tapi keharusan.

Desain Ulang yang Urgen

Di korporasi, perusahaan perlu mendesain ulang jalur karier. Promosi tak harus selalu berarti lembur tiada henti. Bisa saja berupa kepemimpinan proyek berbasis kompetensi. Memberi ruang untuk "gig internal" dan menjamin kesehatan mental karyawan adalah langkah awal yang krusial.

Pemerintah juga tak boleh diam. Reformasi birokrasi harus menyentuh hal fundamental. Mungkin dengan mengadaptasi kebijakan micro-sabbatical bagi ASN berprestasi. Meritokrasi harus benar-benar berdasarkan kinerja dan inovasi, bukan sekadar antrian senioritas yang bikin jenuh.

Program kepemimpinan muda di instansi pemerintah harus mengakomodasi nilai-nilai Gen Z, seperti fleksibilitas dan orientasi pada dampak sosial. Kalau birokrasi tetap kaku bagai menara gading, jangan heran. Talenta terbaik bangsa mungkin akan memilih jadi freelancer daripada mengabdi pada negara.

Bukan Akhir, Tapi Awal

Tapi, kita tak perlu pesimis. Justru, krisis suksesi ini bisa jadi peluang emas. Peluang untuk menciptakan organisasi yang lebih lincah dan adaptif. Ketika kontrak psikologis antara karyawan dan perusahaan bisa diselaraskan kembali, kita akan melihat wajah kepemimpinan baru yang lebih segar dan tangguh.

Kepemimpinan masa depan mungkin tak lagi berupa singgasana di puncak piramida. Bisa jadi ia akan berbentuk jaringan kolaborasi yang saling menguatkan. Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa "jeda" yang diambil anak muda ini adalah persiapan untuk lompatan yang lebih tinggi, bukan sekadar tanda untuk pergi selamanya.

Dunia kerja Indonesia benar-benar di persimpangan. Pilihannya cuma dua: bertahan dengan pola usang dan menghadapi kekosongan kepemimpinan, atau beradaptasi dengan cara baru yang lebih manusiawi. Masa depan bangsa ini, sejujurnya, bergantung pada respons kita terhadap kegelisahan sunyi dari generasi penerusnya.

Raisa Ayu Rininta. ASN dan Mahasiswa Magister FIA UI.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar