Brussel. Kabar dari Uni Eropa soal Selat Hormuz ternyata tak terlalu menggembirakan. Di tengah ketegangan yang makin meruncing di jalur minyak vital itu, blok negara-negara Eropa itu mengaku belum siap. Ya, mereka belum bisa mengirim tambahan kapal perang untuk mengamankan navigasi. Pengumuman ini keluar Senin, 16 Maret 2026.
Alasannya? Rupanya kompleks. Bukan cuma soal kesepakatan politik yang selalu rumit di antara 27 negara anggota. Tapi juga soal sumber daya yang sudah terkuras di tempat lain.
Menurut pejabat tinggi kebijakan luar negeri UE, ada urgensi nyata untuk melindungi kapal-kapal dagang. Tapi, urusan mengerahkan angkatan laut bukan hal sepele. Butuh persetujuan bulat dari semua anggota. Prosesnya bisa berlarut-larut.
"Fokus kita saat ini masih terpecah," begitu kira-kira penjelasan dari dalam. Dan ini yang jadi masalah besar.
Perhatian Tersedot ke Laut Merah
Di sisi lain, sebagian besar kekuatan laut Eropa saat ini masih sibuk di Laut Merah. Misi Aspides untuk menangkal serangan Houthi menyita banyak perhatian dan aset. Kapal-kapal perang andalan sudah berada di sana. Jadi, logistik dan koordinasi untuk membuka front baru di Selat Hormuz jadi tantangan berat. Sumber dayanya terbatas.
Kondisi ini bikin para pelaku industri pelayaran global was-was. Bayangkan saja: tanpa patroli keamanan yang memadai di Hormuz, risiko gangguan terhadap kapal tanker minyak tetap tinggi. Kalau sampai terjadi insiden, dampaknya bisa langsung terasa: harga energi di pasar internasional berpotensi melonjak tak terkendali.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Tiga WNA Produser Konten Porno di Bali, Salah Satunya Pakai Jaket Ojol untuk Sensasi
Indonesia Diversifikasi Impor Minyak, Buka Peluang dari Rusia dan AS
Krisis Suksesi: Hanya 6% Generasi Muda Indonesia Berminat Pimpin Korporasi
Wamen Dalam Negeri Dorong Transformasi Layanan Kesehatan di RSUD Yowari Sentani