Tokyo menjadi tuan rumah sebuah forum penting pekan lalu. Delegasi pemerintah dan pelaku bisnis dari berbagai negara di kawasan Indo-Pasifik berkumpul, dan satu pesan utama mereka sampaikan: komitmen untuk menjaga pasokan energi tetap stabil. Ini jadi perhatian serius, terutama di tengah konflik yang memanas di Timur Tengah.
Forum Menteri dan Bisnis Keamanan Energi Indo-Pasifik itu sendiri digelar selama dua hari, hasil kerja sama Jepang dan Amerika Serikat. Latar belakangnya cukup menegangkan. Pertemuan berlangsung ketika Selat Hormuz jalur vital untuk pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia nyaris ditutup oleh Iran. Situasi itu terjadi di tengah ketegangan perang antara AS dan Israel melawan negara tersebut.
Usai acara, Menteri Perindustrian Jepang, Ryosei Akazawa, tampil dalam konferensi pers. Dia menyoroti poin-poin kunci yang dibahas.
"Seperti untuk tenaga nuklir dan gas alam cair, untuk mengatasi permintaan energi yang tinggi di Asia," ujar Ryosei, seperti dilaporkan Antara, Senin 16 Maret 2026.
Selain itu, para peserta juga sepakat soal pentingnya investasi. Mereka menekankan perlunya infrastruktur yang stabil dan andal. Tanpa itu, keamanan energi hanyalah wacana.
Menurut Ryosei, forum yang dihadiri menteri dan pemimpin bisnis dari 18 negara itu juga membahas sistem energi masa depan. Tujuannya jelas: menciptakan sistem yang bisa menjamin keamanan energi di kawasan Indo-Pasifik untuk tahun-tahun mendatang.
Artikel Terkait
KPK Panggil Ulang Maktour dan SATHU untuk Dalami Peran Fuad Hasan dalam Kasus Kuota Haji
KPK Tahan Gus Alex Terkait Dugaan Suap Kuota Haji
Kemenag Gelar Sidang Isbat Penentuan Lebaran 2026 pada 19 Maret
DPR Dukung Sikap Prabowo: Bertahan di Board of Peace untuk Pengaruhi Isu Palestina