Gelombang kecerdasan buatan yang melanda dunia ternyata punya efek samping yang cukup nyata: permintaan chip melonjak drastis. Lenovo, raksasa teknologi asal Tiongkok, mengakui hal ini. Mereka bilang, di tengah situasi pasar semikonduktor yang memanas untuk kebutuhan AI, kenaikan harga pada produk dan layanan mereka rasanya sulit dihindari.
Di satu sisi, perusahaan ini merasa yakin bisa menjaga stok barang agar tetap tersedia saat pelanggan membutuhkan. Tapi soal harga? Mereka memilih bersikap transparan dan realistis. Lenovo enggan berjanji bahwa harga produknya mulai dari PC biasa sampai solusi cloud akan tetap sama seperti dulu. Kondisi pasar saat ini, kata mereka, memang tidak menentu.
Tom Butler, Vice President, Commercial Portfolio & Product Management, Lenovo Asia Pasific, mencoba menjelaskan posisi unik perusahaannya. Menurutnya, gelar sebagai produsen PC terbesar di dunia memberi mereka keuntungan strategis.
Namun begitu, status 'VIP' saja tidak cukup. Lenovo juga mengandalkan teknologi canggih bernama Supply Chain Intelligence (SCI) sebuah alat berbasis AI yang dirancang khusus untuk memprediksi dan mengelola stok.
Artikel Terkait
FCC Izinkan SpaceX Tambah 7.500 Satelit Starlink, Layanan Internet Global Makin Dekat
Greenland: Hamparan Es yang Menyimpan Gejolak Masa Depan
Gelombang Email Reset Password Instagram: Bug atau Ancaman Kebocoran Data?
Sinyal Kembali 100%: Telkomsel Pulihkan Jaringan di Tiga Provinsi Pascabanjir