Gelombang kecerdasan buatan yang melanda dunia ternyata punya efek samping yang cukup nyata: permintaan chip melonjak drastis. Lenovo, raksasa teknologi asal Tiongkok, mengakui hal ini. Mereka bilang, di tengah situasi pasar semikonduktor yang memanas untuk kebutuhan AI, kenaikan harga pada produk dan layanan mereka rasanya sulit dihindari.
Di satu sisi, perusahaan ini merasa yakin bisa menjaga stok barang agar tetap tersedia saat pelanggan membutuhkan. Tapi soal harga? Mereka memilih bersikap transparan dan realistis. Lenovo enggan berjanji bahwa harga produknya mulai dari PC biasa sampai solusi cloud akan tetap sama seperti dulu. Kondisi pasar saat ini, kata mereka, memang tidak menentu.
Tom Butler, Vice President, Commercial Portfolio & Product Management, Lenovo Asia Pasific, mencoba menjelaskan posisi unik perusahaannya. Menurutnya, gelar sebagai produsen PC terbesar di dunia memberi mereka keuntungan strategis.
"Kami punya kemitraan strategis dengan seluruh industri, termasuk dengan perusahaan semikonduktor maupun penyedia SoC, mulai dari Intel, AMD, Qualcomm, hingga Microsoft," ujarnya dalam Lenovo Tech Day 2026 di Jakarta, Kamis (13/1).
"Karena kami pemasok PC nomor satu, kami jadi prioritas utama bagi para penyedia itu. Itu keuntungan besar kami."
Namun begitu, status 'VIP' saja tidak cukup. Lenovo juga mengandalkan teknologi canggih bernama Supply Chain Intelligence (SCI) sebuah alat berbasis AI yang dirancang khusus untuk memprediksi dan mengelola stok.
Alat ini bahkan diakui oleh World Economic Forum sebagai salah satu solusi AI terbaik untuk manajemen rantai pasok. Dengan SCI, stabilitas dan ketersediaan produk di berbagai pasar bisa lebih terjaga.
Fan Ho, dari tim Lenovo, memberi gambaran lebih detail. Ia menjelaskan bagaimana sistem ini bekerja dengan menggabungkan data dari berbagai sumber secara global.
"Kami mengumpulkan data dari mana saja, mulai dari lokasi hub logistik, potensi konflik dagang, sampai status ketersediaan pasokan dari mitra. Setiap saat, kami memantau status suplai dari lebih dari 2.000 pemasok," jelasnya.
Jadi, skala bisnis yang masif memberi daya tawar tinggi di hadapan pemasok komponen. Tapi di balik itu, ada sistem AI yang bekerja siang malam memantau rantai pasok yang rumit. Kombinasi inilah yang coba diandalkan Lenovo untuk tetap bertahan di tengah gejolak pasar chip yang belum jelas ujungnya.
Artikel Terkait
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI