Konflik antara Israel dan Iran sudah memasuki minggu ketiga. Dan ujungnya masih belum kelihatan. Yang jelas, dampaknya sudah merembet ke mana-mana. Selat Hormuz, jalur laut super vital yang dilalui sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia, kini macet total. Akibatnya, harga minyak melonjak. Kekhawatiran bakal ada gelombang inflasi global baru pun makin menjadi.
Di tengah situasi ini, militer Israel justru mengaku sudah punya peta jalan yang rinci. Setidaknya untuk tiga minggu ke depan, mereka punya rencana operasional yang sudah disiapkan matang. Bahkan, rencana untuk periode lebih panjang juga sudah ada di meja.
Menurut juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, tujuan mereka sebenarnya terbatas. Intinya, melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam Israel. Caranya? Dengan menyerang infrastruktur rudal balistik, fasilitas nuklir, dan aparat keamanan mereka.
"Kami ingin memastikan bahwa rezim ini selemah mungkin. Target kami adalah melemahkan semua kemampuan mereka, semua bagian, semua sayap lembaga keamanan mereka," ujar Shoshani dalam sebuah briefing pada Senin (16/3).
Di sisi lain, tekanan juga datang dari Washington. Presiden AS Donald Trump, lewat pernyataannya hari Minggu (15/3), menyerukan dibentuknya koalisi negara-negara. Tujuannya satu: membuka kembali Selat Hormuz yang vital itu. Trump bahkan tak segan memberi peringatan keras. Dia bilang, aliansi NATO bakal menghadapi masa depan yang "sangat buruk" kalau anggotanya ogah membantu AS dalam urusan ini.
Jadi, sementara harga minyak terus naik dan pasar global cemas, rencana militer Israel untuk tiga minggu ke depan sudah siap dijalankan. Perang ini, tampaknya, masih akan berlanjut.
Artikel Terkait
Pegawai SPPG Purbalingga Dipecat Usai Unggah Status WhatsApp Kontroversial
Inara Rusli Minta Maaf ke Insanul Fahmi dan Wardatina Mawa Jelang Lebaran
Kapolda Riau Resmikan Jembatan Merah Putih Presisi di Kampar, Dukung Konektivitas Warga
Korban AS di Konflik dengan Iran: 13 Tewas, 200 Luka, Sebagian Besar Sudah Kembali Bertugas