Oleh: Nadeem Ahmad Fuad
Hidup kita sekarang? Sibuk. Dunia berputar begitu cepat, penuh dengan gangguan. Tuntutan kerja menumpuk, tekanan sosial tak kunjung reda, masa depan sering terasa kabur. Di tengah semua ini, kita bisa saja kehilangan pegangan.
Nah, dalam kondisi seperti inilah kisah Isra Mikraj hadir. Bukan cuma sekadar catatan sejarah belaka. Lebih dari itu, ia adalah sumber inspirasi sekaligus sebuah tantangan berpikir yang serius. Bagaimana kita, manusia zaman now, menyikapinya?
Lihat saja. Kehidupan modern serba digital menuntut segala sesuatu praktis dan logis. Tapi jangan salah, dunia maya justru sering menjebak kita dalam realitas virtual. Segala yang tampak nyata dianggap kebenaran, sementara yang bersifat ruhani dianggap fana dan diabaikan.
Padahal, Isra Mikraj jelas peristiwa luar biasa. Ia jauh melampaui batas akal manusia biasa. Untuk mempercayainya, kita butuh iman.
Iman itu sendiri ada di ranah spiritual. Meski untuk mencapainya kita pakai akal dan logika sebagai penguat, akhirnya semua berujung pada keyakinan hati yang bulat, seratus persen tanpa keraguan. Tashdiq al jazm, begitu istilahnya.
Lalu, apa mungkin kita memaksakan peristiwa Isra Mikraj masuk ke dalam kotak logika semata? Membayangkannya hanya dengan visualisasi akal yang terbatas dan, jujur saja, seringkali kering dari spiritualitas? Tentu sulit. Soalnya, peristiwa ini memang berada di wilayah keimanan.
Coba pikirkan analogi ini. Manusia modern disuruh menjelaskan secara logis bagaimana Nabi Musa membelah laut dengan tongkat. Atau Nabi Isa menyembuhkan orang sakit seketika dan menghidupkan yang mati. Mampukah?
Atau, biar lebih kekinian dan akademis, mari kita lihat contoh dari dunia medis modern. Pada tahun 1962, di Tanganyika, Afrika, terjadi sebuah wabah aneh yang dicatat oleh Central African Journal of Medicine.
Dimulai dari satu orang, wabah tertawa menyebar ke seluruh desa. Anak-anak, orang dewasa, semua tertawa tak terkendali berhari-hari sampai ada yang pingsan. Butuh waktu delapan belas bulan lamanya sebelum wabah ini benar-benar berhenti.
Ada lagi kasus di Eropa. Tepatnya di Strasbourg, Prancis, tahun 1518. Seorang wanita tiba-tiba menari tanpa henti selama enam hari. Anehnya, 'penyakit' ini menular. Ratusan orang akhirnya ikut menari tanpa bisa berhenti, hingga sekitar 400 orang tewas kelelahan. Mereka menari sampai mati, tak bisa tidur atau makan.
Dua peristiwa sejarah itu nyata dan terdokumentasi. Tapi bisakah logika modern kita menjabarkannya dengan tuntas?
Kalau kita hanya mengandalkan nalar dan mengabaikan spiritualitas, pasti akan mentok. Akan selalu ada hal-hal yang tak terjangkau.
Karena itulah, kita perlu mengasah sisi spiritual. Bukan untuk lari dari realitas, tapi justru agar bisa memaknai hidup dengan lebih utuh. Menyadari bahwa kita ini makhluk terbatas. Dengan kesadaran itu, kita bisa mendekati peristiwa seperti Isra Mikraj dengan cara yang benar: memahaminya secara kognitif, lalu meyakininya dengan sepenuh hati.
Ketika logika dan spiritualitas berjalan beriringan, baru kita akan paham. Ada kekuatan yang jauh lebih besar dari diri kita, lebih perkasa dari apa pun di alam semesta ini. Kekuatan yang mengatur segala sesuatu, termasuk hal-hal yang tak terjangkau akal.
Dialah Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari-Nya-lah datangnya mukjizat, termasuk peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.
Allah sendiri yang menegaskannya dalam firman-Nya:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra’, 17:1)
Secara bahasa, Isra artinya perjalanan di malam hari. Mi’raj berarti naik. Kisahnya singkatnya, Nabi Muhammad diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem jaraknya sekitar 1.462 kilometer. Lalu dari sana, beliau dinaikkan menembus lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang tak terbayangkan oleh indra manusia.
Semua itu terjadi hanya dalam satu malam. Mustahil? Tentu, jika mengandalkan kemampuan manusia. Tapi tidak, jika itu adalah kehendak dan kekuatan Allah SWT.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar pernah memberi pencerahan.
“Isra Mikraj bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan manusia untuk terus berkembang dalam ilmu dan teknologi”.
Maksudnya jelas. Ilmu dan teknologi kita saat ini belum cukup untuk menganalisis peristiwa ini. Justru Isra Mikraj-lah yang mendorong kita untuk terus belajar, meneliti, dan mengasah akal. Inilah tantangan sebenarnya: menjalankan logika dengan landasan spiritual yang kokoh, dan sebaliknya.
Dengan cara itu, pemahaman kita jadi komprehensif. Kita bisa lebih mengerti diri sendiri, tujuan hidup, dan meyakini adanya Kekuatan Maha Besar di balik semesta. Sekaligus mengakui, bahwa yang mustahil di mata manusia, sangatlah mungkin atas kehendak-Nya.
Jadi, masihkah kita meragukan Isra Mikraj hanya dengan bermodal logika yang terbatas dan spiritualitas yang tandus? Pertanyaan itu, saya kembalikan kepada kita semua, manusia yang mengaku modern.
"Kolumnis, Bukan Santri Pondok Pesantren.
Artikel Terkait
Penyidik Polda Sumut Geledah Kantor Diskominfo Tebing Tinggi Usai OTT
Polisi Purbalingga Gagalkan Dua Modus Penyalahgunaan Subsidi LPG dan BBM
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi