Lalu, apa yang bisa dilakukan? Airlangga memaparkan sejumlah langkah. Pertama, memperluas kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK). Kajian World Travel and Tourism Council menunjukkan, sejak kebijakan BVK diberlakukan untuk 169 negara pada 2015, pertumbuhan wisatawan bisa mencapai 15% per tahun. Efek sampingnya positif banget: tercipta 400.000 lapangan kerja baru. Saat ini, pemerintah bahkan sudah mengidentifikasi 20 negara potensial lain untuk respons yang lebih cepat.
Di sisi lain, pasar domestik harus jadi jaring pengaman. Momentum libur lebaran bisa dimanfaatkan dengan maksimal lewat konsep "micro-tourism" yaitu, mengemas destinasi dalam radius perjalanan darat agar punya pengalaman yang mendalam. Pemerintah sendiri sudah menyiapkan stimulus diskon transportasi dan kebijakan "Work From Anywhere" untuk Lebaran 2026 nanti.
Selain itu, negosiasi rute penerbangan internasional baru harus digenjot. Branding Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil juga perlu dikokohkan. Jangan lupa, ada peluang besar dari para "digital nomad". Wilayah seperti Jakarta, Kepulauan Riau, atau KEK Kura-Kura Bali bisa ditawarkan sebagai ekosistem kerja yang aman dan berteknologi tinggi untuk menarik talenta digital profesional.
Airlangga juga melihat sisi positif dari gejolak nilai tukar.
"Dengan gejolak nilai tukar saat ini, seharusnya menjadi potensi tersembunyi dalam menarik wisatawan karena mereka bisa mendapatkan nilai lebih dari uang yang mereka tukarkan. Untuk itu pemasaran yang menonjolkan Indonesia sebagai destinasi "high end" dengan harga terjangkau perlu digaris besarkan," ujarnya.
Ia menegaskan, kolaborasi adalah kunci. Sinergi semua pihak akan menentukan ketahanan ekosistem pariwisata menghadapi dinamika global yang tak menentu. Justru dalam kondisi sulit ini, ada momentum untuk memperkuat pondasi struktural pariwisata nasional.
"Saya berharap forum ini dapat menghasilkan ide-ide strategis yang berdampak terhadap sektor pariwisata Indonesia. Mari kita pastikan pariwisata Indonesia tetap tangguh, resilien dan mampu beradaptasi menghadapi berbagai gejolak geopolitik global," pungkas Airlangga menutup paparannya.
Artikel Terkait
Dua Ponsel Oppo Laku Rp 59,7 Juta di Lelang KPK, Disebut Anomali
Jerman Tegaskan Konflik Selat Hormuz Bukan Urusan NATO
Korlantas Siapkan Skema One Way Nasional untuk Antisipasi Puncak Mudik 18 Maret
Jadwal Imsak Jakarta dan Kepulauan Seribu 17 Maret 2026 Pukul 04.32 WIB