Menjelang Lebaran, harga bahan pangan memang kerap merangkak naik. Tapi, menurut sejumlah pengamat, masalahnya nggak cuma soal stok barang ada atau tidak ada. Ada dua hal lain yang justru lebih krusial: distribusi yang tersendat dan daya beli masyarakat yang terbatas.
Khudori, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), punya pandangan menarik. Menurutnya, pemerintah selama ini terlalu fokus pada urusan ketersediaan. Padahal, fokus tunggal itu belum cukup untuk benar-benar menstabilkan harga di pasar.
Persoalan distribusi ini makin pelik karena karakter komoditas pangan kita yang musiman dan produksinya cenderung terkonsentrasi di beberapa daerah tertentu. Makanya, butuh sistem logistik yang andal. Sistem ini penting banget sebagai alat intervensi pemerintah saat mekanisme pasar mulai gagal berfungsi dengan baik.
Namun begitu, ada masalah lain yang mengganjal: cadangan pemerintah terbatas. Saat ini, hanya beras yang punya cadangan memadai. Untuk komoditas lain? Hampir tidak ada, atau jumlahnya sangat sedikit. “Kalau pun ada, jumlahnya kecil,” lanjut Khudori. Ini jadi titik lemah saat gejolak harga terjadi.
Regulasi harga yang ada juga dinilai belum efektif. Di lapangan, masih banyak komoditas yang dijual melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Secara hukum pun, aturan mainnya punya keterbatasan karena lebih mengikat pemerintah, bukan pelaku usaha secara langsung.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Tiga Anggota Komplotan Perampok yang Tindas Lansia di Cileungsi
Pasar Ponsel Rp1 Jutaan Makin Sengit, Tawarkan RAM 8 GB dan Fitur Premium
Keluarga Palestina Tewas Ditembak Pasukan Israel Usai Buka Puasa di Tepi Barat
Iran Klaim Hancurkan Gudang Amunisi AS di Pangkalan Udara Al Dhafra