Iran dikabarkan sedang mempertimbangkan sebuah kebijakan baru terkait lalu lintas minyak di Selat Hormuz. Intinya, mereka bakal mengizinkan kapal-kapal tanker untuk melintas. Tapi, ada syarat khusus yang ditawarkan: pembayaran harus pakai yuan, mata uang China. Ini jadi sinyal menarik di tengah ketegangan yang ada.
Latar belakangnya, ancaman dari AS belum lama ini. Presiden Donald Trump sempat mengeluarkan peringatan keras. Ia mengancam akan menyerang infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg jika Teheran terus saja memblokade kapal-kapal yang hendak lewat di selat strategis itu. Ancaman itu jelas menggantung, menambah panas situasi.
Nah, kini muncul respons dari Iran. Menurut kabar yang beredar dari seorang pejabat senior, mereka berencana mengizinkan sejumlah kapal tanker minyak untuk melintas. Syaratnya, seperti sudah disebut, transaksi minyaknya harus diperdagangkan dalam yuan. Rencana ini disebut-sebut sebagai bagian dari skema baru Iran untuk mengatur arus kapal tanker di selat itu.
Jadi, skemanya seperti apa? Tampaknya Iran ingin menguji air. Mereka mungkin akan membuka keran sedikit, membiarkan beberapa kapal lewat, dengan mata uang tertentu sebagai kuncinya. Langkah ini bisa dilihat sebagai manuver diplomatik sekaligus ekonomi di tengah tekanan yang mereka hadapi.
Memang, Selat Hormuz bukan jalur biasa. Ini adalah urat nadi minyak dunia. Setiap gebrakan kebijakan di sana pasti langsung menarik perhatian global. Dan kali ini, yuan China yang jadi sorotan.
Artikel Terkait
Tabrakan Minibus dan Truk di Jalur Mudik Garut, Tak Ada Korban Jiwa
Wali Kota Semarang Umumkan Perbaikan Darurat dan Rencana Betonisasi Jalan Citarum
Bus Tabrak Lima Mobil Pemudik di Tol Batang, Satu Luka Ringan
Petugas KAI Bergerak di Stasiun Pekalongan Antisipasi Lonjakan Mudik Lebaran