Minggu pagi di Cilincing, Jakarta Utara, suasana khidmat terasa di sekitar Pura Segara. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, hadir langsung dalam upacara Melasti, ritual penyucian jelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Kehadirannya bukan sekadar formalitas. Di tengah kerumunan umat Hindu yang sedang beribadah, Pramono menyoroti sesuatu yang istimewa tahun ini: momen Nyepi yang berdekatan dengan Idulfitri.
“Pada hari ini, saya bersama Ibu Wamen dan istri saya, menghadiri upacara Melasti sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948,” ujar Pramono.
Ia melanjutkan, “Kehadiran kita untuk memastikan umat Hindu di Jakarta dapat menjalankan ibadahnya dengan baik, tertib, khidmat, dan penuh dengan sukacita.”
Bagi gubernur, Melasti lebih dari ritual seremonial. Ini adalah momentum bersama untuk penyucian diri, sebuah langkah awal menuju kehidupan yang lebih bijak. Namun begitu, perhatiannya tertuju pada kalender. Kedekatan dua hari besar agama Nyepi dan Idulfitri menjadi pesan utamanya.
“Tahun ini, perayaan Nyepi hampir bersamaan, berdekatan dengan perayaan Idulfitri yang akan sebentar lagi kita jalani bersama-sama,” katanya.
Artikel Terkait
Terminal Pakupatan Serang Catat Lonjakan Penumpang Jelang Mudik Lebaran
Iran Pertimbangkan Lintas Tanker di Hormuz dengan Syarat Bayar dalam Yuan
Persija Kejar Gelar di Tengah Krisis Pemain, Hadapi Dewa United di JIS
Mendikbud Tegaskan Komitmen Perkuat Pendidikan Inklusif di Ramadan