Beberapa waktu lalu, suasana di rumah Megawati Soekarnoputri di kawasan Menteng cukup ramai. Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, datang berkunjung. Agenda utamanya? Menyampaikan sebuah surat ucapan selamat dari mantan Presiden Indonesia itu untuk Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang baru saja ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Surat itu sendiri baru terungkap ke publik pada suatu Minggu di pertengahan Maret. Isinya panjang dan cukup mendalam. Megawati, yang kini menjadi Ketua Umum PDIP, memuji proses pemilihan yang dijalani Khamenei. Menurutnya, pemilihan itu berlangsung dalam situasi yang penuh tantangan, tapi toh sang Ayatollah berhasil meraih kepercayaan luas, baik dari kalangan ulama maupun rakyat biasa.
Ia melihat kemampuan Khamenei menyatukan kepemimpinan Iran sebagai sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.
Nah, dari situ, pikiran Mega langsung melayang ke masa lalu. Tepatnya, pada ajaran sang ayah, Bung Karno. Dalam suratnya, ia dengan lancar menyinggung pesan-pesan proklamator pertama Indonesia itu. Soal persatuan nasional, kemandirian, dan tentu saja, kedaulatan. Bung Karno, tegas Mega, adalah sosok yang gigih menentang imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuknya.
Menariknya, Mega merasa ada benang merah yang kuat. Pemikiran geopolitik Bung Karno yang mengedepankan kesetaraan dan keadilan itu, rupanya ia lihat juga tercermin dalam semangat bangsa Iran. Baginya, Iran adalah contoh nyata. Di tengah tekanan dan sanksi ekonomi yang berkepanjangan, mereka tetap tegak sebagai bangsa yang berdaulat secara politik, mandiri di bidang ekonomi, dan punya jati diri dalam budaya.
Artikel Terkait
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 380 Kiloliter Solar Industri di Perairan Surabaya
Cak Imin Tegaskan Tak Ada Hubungan dengan Kasus Tersangka Gus Yaqut
Trump Ancam Serang Lagi Pulau Kharg, Iran Klaim AS Gunakan Pangkalan di UEA
Polda Riau Gelar Lomba Lari Go Sprint Go Green untuk Pembinaan Generasi Muda