Namun begitu, Moskow dan Beijing punya narasi sendiri. Mereka menuduh AS sengaja membangun kepanikan untuk melegitimasi aksi militer.
Duta Besar Rusia, Vasily Nebenzya, menyebutnya “histeria” Barat. “Tidak punya dasar kuat dalam laporan resmi IAEA,” kritiknya.
Senada, perwakilan China, Fu Cong, berpendapat langkah-langkah militer AS justru merusak ruang diplomasi yang susah payah dibangun.
Sementara itu, dari kubu Iran, sikapnya tetap sama. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, bersikukuh aktivitas nuklir negaranya murni untuk sipil.
“Program nuklir Iran selalu dan akan tetap bersifat damai. Kami menolak segala bentuk pemaksaan sanksi kembali,” tegas Iravani kepada awak media usai sidang.
Ketegangan di New York ini meletup hanya dua pekan setelah peningkatan aktivitas militer AS di kawasan. Presiden Donald Trump berargumen serangan diperlukan untuk mencegah Iran memproduksi senjata nuklir dalam waktu dekat. Tapi, kabar dari dalam AS sendiri menyebutkan, laporan intelijen mereka masih meragukan urgensi klaim tersebut. Ada keraguan yang dalam.
Pertemuan ini, pada akhirnya, menandai fase baru. Di panggung hubungan internasional, garis antara transparansi nuklir dan kedaulatan militer semakin tipis. Dan di meja Dewan Keamanan, perang kata-kata kadang terasa sama panasnya dengan perang di medan sesungguhnya.
Disusun dari berbagai sumber di lokasi.
Artikel Terkait
Kebakaran Pabrik Kerupuk di Bintaro Hanguskan 10 Rumah Kontrakan
Stasiun Gambir Dipadati Pemudik Lebaran 2026 Sejak Pagi
Peserta Mudik Gratis DKI 2026 Wajib Serahkan Motor di Terminal Pulogadung 15 Maret
Polisi Bubarkan Balap Liar di Cibinong, Tiga Motor Brong Diamankan