Suasana di depan gedung KPK sore itu tegang. Mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, baru saja resmi ditahan. Penahanan ini menyusul penetapannya sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi kuota haji. Begitu rompi oranye melingkari tubuhnya dan ia digiring ke mobil tahanan, kerumunan massa Banser yang sudah menunggu pun meledak.
Teriakan "KPK zalim!" menggema keras, memecah kesunyian kawasan itu. Menurut sejumlah saksi, massa mendesak mendekati pagar, berusaha melihat langsung kondisi Yaqut. Emosi tampak jelas di wajah mereka.
Setelah mobil membawa sang mantan menteri pergi, amarah mereka tak juga reda. Bahkan, aksi eskalasi pun terjadi. Sebuah baju bergambar lambang KPK dibakar di pinggir jalan, mengepulkan asap hitam. Beberapa orang lainnya terlihat mencoba merangsek masuk dengan mengoyak-goyak pagar pembatas.
Namun begitu, situasi yang hampir tak terkendali itu berhasil diredam. Bukan oleh aparat dulu, melainkan oleh sesama anggota Banser yang berusaha menenangkan rekan-rekannya. Barulah kemudian petugas kepolisian yang berjaga turun tangan, mengamankan lokasi dan memastikan aksi tidak berujung ricuh.
Lepas dari hiruk-pikuk itu, satu hal jelas: kasus ini telah menyulut emosi. Penahanan YCQ bukan sekadar berita hukum, tapi telah menyentuh simpul-simpul loyalitas yang dalam.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Pemerintah Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah pada Ibadah Haji
Petinggi Gelar Doa Bersama dan Siapkan Langkah Operasi Ketupat 2026 Jelang Puncak Mudik
TNI AD Turunkan Status Siaga dari Satu ke Tiga Jelang Idul Fitri
Gelombang Mudik Lebaran 2026 Mulai Meningkat, Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang