“(Rupiah) kita masih oke,” katanya meyakinkan. “Artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita cukup baik.”
Fundamental ekonomi yang terjaga positif itu, harapannya, akan jadi motor penggerak. Terutama untuk mendorong pasar modal domestik kembali bergairah. Investasi saham diharapkan ikut terdongkrak.
“Kalau ekonominya, fundamentalnya baik terus, otomatis pelan-pelan saham akan naik lagi ke level yang lebih baik dari sekarang,” tutur Purbaya.
Di pasar sendiri, ada secercah sinar. Pada pembukaan perdagangan Rabu itu, rupiah justru menguat tipis 12 poin ke level Rp16.851 per dolar AS. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, melihat penguatan ini berjalan beriringan dengan penurunan harga minyak yang cukup signifikan.
Tapi jangan terlalu cepat berharap. Lukman juga mengingatkan, beban dari perang yang masih berkecamuk akan terus membayangi. Faktor-faktor itu membuat pergerakan rupiah ke depan diprediksi masih akan berfluktuasi. Kisarannya, antara Rp16.800 sampai Rp16.950 per dolar AS.
Jadi, ceritanya nggak hitam putih. Di satu sisi ada tekanan, di sisi lain ketahanan kita ternyata masih patut diacungi jempol dibandingkan tetangga. Begitulah kira-kira narasi yang coba dibangun.
Artikel Terkait
Jadwal Salat 22 Ramadan 1447 H untuk Medan, Kamis 12 Maret 2026
KPK Periksa Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
Pemerintah Targetkan Pembangunan PLTS Raksasa 100 Gigawatt untuk Kurangi Ketergantungan Diesel
Israel Umumkan Gelombang Serangan Skala Besar ke Teheran