Dampak perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel ternyata tak cuma soal geopolitik. Perlahan-lahan, gelombang kejutnya mulai terasa di perekonomian negara-negara lain. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai 'mengetatkan ikat pinggang' untuk bertahan, berusaha menghindari krisis yang lebih dalam.
Sejumlah negara, terutama di kawasan Asia, mulai memberlakukan kebijakan baru. Langkah-langkahnya beragam, mulai dari yang sederhana seperti mengatur ulang jam kerja, sampai upaya efisiensi bahan bakar yang lebih ketat. Semua dilakukan untuk berjaga-jaga.
Pakistan Tutup Sekolah 2 Pekan
Di Islamabad, langkah yang diambil pemerintah terbilang drastis. Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan pada Senin lalu. Mulai pekan depan, seluruh sekolah di Pakistan akan diliburkan selama dua minggu penuh. Bayangkan, sekitar 40 juta siswa terdampak. Untuk perguruan tinggi, perkuliahan dialihkan sepenuhnya ke daring.
Kebijakan itu juga menyentuh kantor pemerintah. Kecuali sektor perbankan, operasional kantor dipangkas jadi hanya empat hari dalam seminggu. Separuh lebih pegawai negeri diharuskan kerja dari rumah. Bahkan, jatah bahan bakar untuk kendaraan dinas dipotong separuh untuk dua bulan ke depan. Ambulans dan bus umum dapat pengecualian, sementara pembelian mobil dinas baru ditunda sampai pertengahan 2026.
Penghematan juga menyasar level pejabat. Para menteri dan penasihat pemerintah sepakat melepas gaji serta tunjangan mereka. Anggota legislatif, baik di tingkat federal maupun daerah, diharapkan memotong gaji secara sukarela sebesar 25%. Di tengah situasi seperti ini, pemerintah pun melarang penyelenggaraan buka puasa bersama yang bersifat pesta selama Ramadan.
Latar belakang kebijakan keras ini jelas: tekanan ekonomi yang makin berat. Pakistan baru saja menaikkan harga bensin dan solar sebesar 55 rupee per liter, kenaikan terbesar yang pernah tercatat. Sebagai negara yang hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor, inflasi di sana sangat rentan terhadap gejolak harga minyak global.
"Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan-keputusan sulit," ujar Sharif dalam pidato televisinya.
Artikel Terkait
OJK Sodorkan Roadmap Integralitas untuk Atasi Masalah Struktural di Pasar Modal
Pengadilan Tolak Praperadilan Yaqut, Status Tersangka KPK Sah
Inter Miami Ikut Perburuan Bernardo Silva, Bersaing dengan Juventus dan Benfica
BGN Hentikan Sementara 1.512 Satuan Pelayanan Gizi di Jawa