Pakistan dan Thailand Ambil Langkah Darurat Hemat Energi Imbas Perang Timur Tengah

- Kamis, 12 Maret 2026 | 03:15 WIB
Pakistan dan Thailand Ambil Langkah Darurat Hemat Energi Imbas Perang Timur Tengah

"Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan-keputusan sulit," ujar Sharif dalam pidato televisi yang disiarkan ke seluruh negeri.

Thailand Terapkan WFH bagi Pegawai Negeri

Sementara itu, di Bangkok, respons pemerintah terasa lebih pada penyesuaian operasional. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan pegawai negeri untuk bekerja dari rumah mulai Selasa lalu. Tentu, dengan pengecualian bagi petugas layanan publik yang harus bertemu langsung dengan warga.

Kebijakannya turun sampai ke hal-hal teknis. Suhu AC di kantor pemerintah diatur ketat antara 26-27 derajat. Pegawai disarankan pakai kemeja lengan pendek, naik tangga ketimbang lift, dan mematikan semua peralatan listrik jika tidak dipakai. Perjalanan dinas ke luar negeri untuk sementara dihentikan. Masyarakat pun diajak untuk berbagi kendaraan atau carpooling.

Kalau situasi makin runyam, rencananya akan ada langkah lebih ketat. Misalnya, memadamkan lampu iklan di mal dan gedung komersial lebih awal, atau menutup pom bensin selepas jam 10 malam.

Menurut data, cadangan energi Thailand saat ini cukup untuk sekitar 95 hari. Masalahnya, 68% kebutuhan mereka bergantung pada gas alam. Itu sebabnya pemerintah sedang berburu pasokan LNG tambahan dari sejumlah negara, termasuk AS dan Australia, untuk mengamankan stok jangka panjang.

Jadi, meski perang secara fisik terjadi jauh di sana, efeknya ternyata merambat kemana-mana. Dari anak sekolah yang libur mendadak di Pakistan, sampai pegawai yang naik tangga di gedung pemerintahan Bangkok. Semua adalah bagian dari cerita yang sama.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar