Lebih jauh, dia menyoroti pentingnya mencegah terulangnya kejadian serupa. Untuk itu, dia mendesak semua federasi olahraga bersepakat memperkuat sistem perlindungan. Program Safeguarding yang dijalankan KOI, misalnya, bisa jadi salah satu pilar utamanya.
Thohir justru melihat secercah terang dari musibah ini: keberanian para atlet untuk bersuara. Baginya, ini adalah langkah awal yang krusial untuk sebuah pembenahan besar-besaran.
"Artinya, sistem pelatnas dan proses latihan di tiap cabang harus bersih total. Bersih dari pelecehan, bersih dari kekerasan," tegasnya.
Dia menduga, praktik buruk ini mungkin sudah berlangsung lama. Sayangnya, seringkali ditutup-tutupi hanya demi menjaga nama baik organisasi. Karena itulah, dia sangat mengapresiasi sikap terbuka Ketum FPTI, Yenny Wahid, yang tak ragu melaporkan kasus ini.
"Kita semua, Kemenpora dan seluruh federasi, harus memastikan sistem pembinaan atlet berjalan clean and clear," pungkasnya menekankan.
Artikel Terkait
Korlantas Andalkan Teknologi Digital untuk Atur Rekayasa Lalu Lintas Mudik 2026
Arteta: Arsenal Layak Bawa Pulang Kemenangan dari Markas Leverkusen
Polda Jateng Ungkap Produksi Mi Berformalin di Boyolali Sejak 2019
Diva Stradivaryan, Adik Vidi Aldiano, Pilih Jalan sebagai Ilmuwan Pertanian Organik