Pemerintah Luncurkan I-Bio Fund untuk Pendanaan Keanekaragaman Hayati

- Rabu, 11 Maret 2026 | 13:45 WIB
Pemerintah Luncurkan I-Bio Fund untuk Pendanaan Keanekaragaman Hayati

Jakarta - Baru-baru ini, pemerintah meluncurkan sebuah platform pendanaan baru untuk keanekaragaman hayati. Namanya Indonesia Biodiversity Fund, atau I-Bio Fund. Platform ini digagas oleh Kementerian Kehutanan bersama BPDLH.

Intinya, I-Bio Fund dirancang sebagai wadah pendanaan campuran. Harapannya, ia bisa menarik dana dari berbagai sumber untuk mendukung pelestarian dan pengembangan potensi keanekaragaman hayati di Indonesia. Komitmen awal sudah ada. Wildlife Conservation Society (WCS), sebuah lembaga konservasi global, telah menyatakan kesediaannya menempatkan dana di platform ini.

Namun begitu, ini baru langkah pertama. BPDLH kini sedang gencar menjaring komitmen dari lembaga lain, terutama lewat kemitraan internasional baik bilateral maupun multilateral. Mereka juga terus berdialog dengan berbagai filantropi dan yayasan. Tak hanya itu, upaya mengakselerasi dukungan dari pasar dan konsumen individu lewat skema pendanaan inovatif juga terus dijalankan.

Di sisi lain, persiapan internal juga tak kalah penting. Bisnis proses dan rencana investasi platform ini terus disempurnakan, mengacu pada rencana strategis Kemenhut, khususnya Ditjen KSDAE.

Dana Abadi: Sebuah Keharusan?

Kalau kita lihat dokumen rencana investasinya, alokasi dana I-Bio Fund bisa melalui beberapa cara. Ada mekanisme hibah biasa, hibah tanggap darurat, hingga investasi langsung. Tujuannya jelas: menciptakan kelestarian ekosistem, mendukung pemanfaatan berkelanjutan, dan memperkuat tata kelola keanekaragaman hayati.

Program yang berpotensi mendapat akses pendanaan pun beragam. Mulai dari kegiatan perlindungan ekosistem, penanganan jenis asing invasif, budidaya berkelanjutan, hingga program nilai jasa ekosistem dan pengurangan pencemaran.

Yang menarik, dalam dokumen itu muncul opsi skema investasi kehati. Ini menunjukkan pergeseran pandangan. Keanekaragaman hayati mulai dilihat bukan lagi sebagai beban biaya, melainkan sebagai aset yang bisa menghasilkan pendapatan. Paradigmanya bergeser dari cost center menuju revenue generating.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar