Cadangan Menipis, Produksi Minyak Negara Teluk Terancam Berhenti dalam Hitungan Hari

- Rabu, 11 Maret 2026 | 11:15 WIB
Cadangan Menipis, Produksi Minyak Negara Teluk Terancam Berhenti dalam Hitungan Hari

Senin lalu, pasar minyak dunia sempat diguncang. Harga melesat nyaris ke angka $120 per barel. Pemicunya? Serangan Israel terhadap infrastruktur energi Iran di akhir pekan, ditambah pengumuman Teheran soal pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei. Dalam hitungan rupiah, itu setara dengan Rp1,9 juta lebih per barel angka yang bikin deg-degan.

Eskalasi dalam konflik yang sudah berjalan sepuluh hari ini langsung memicu kekhawatiran segar. Minyak mentah Brent pun menyentuh $119,50. Tapi, seperti rollercoaster, harganya kemudian ambles lagi. Sempat terjun ke sekitar $100, lalu pada Selasa diperdagangkan di bawah $90. Meski turun, posisinya masih lebih dari 20% lebih tinggi ketimbang sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu.

Yang jelas, situasi yang makin panas ini memperbesar ancaman bagi infrastruktur energi di Timur Tengah. Produsen-produsen di sana sudah kelimpungan menghadapi kerusakan fasilitas akibat serangan Iran, belum lagi ditutupnya jalur pelayaran minyak paling vital di dunia. Dengan cadangan penyimpanan yang kian menipis, muncul pertanyaan menohok: berapa hari lagi produksi minyak negara-negara Teluk bisa bertahan sebelum terpaksa berhenti?

Selat Hormuz: Kunci yang Sekarang Terkunci

Konflik AS-Israel melawan Iran ini langsung menyeret negara-negara produsen minyak di Teluk Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain ke dalam pusaran. Iran tak segan menyeret mereka dengan melancarkan serangan ke fasilitas energi, bandara, hingga pangkalan militer AS di kawasan. Serangan-serangan itu dikecam sebagai "pengkhianatan" dan dibalas dengan ancaman balasan militer.

Namun begitu, masalah utamanya justru ada di laut. Iran praktis menutup Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman yang jadi urat nadi pasokan minyak global. Menurut analis pelayaran Kpler, lalu lintas komersial di sana hampir seluruhnya terhenti. Padahal, sekitar seperlima minyak dunia lewat selat ini. Penutupannya adalah mimpi buruk bagi pasar energi.

Stok Menipis, Waktu Berlari

Dengan kapal-kapal tanker terjebak, produsen di Teluk cuma bisa berharap selat itu segera dibuka. Memang, Arab Saudi dan UEA punya opsi lain. Mereka bisa mengalihkan sebagian ekspor via Laut Merah dan Teluk Oman. Tapi negara Teluk lainnya? Mereka cuma mengandalkan tangki penyimpanan yang isinya kian susut.

Secara kolektif, mereka punya cadangan sekitar 343 juta barel untuk menunda penghentian produksi yang nampaknya tak terelakkan, begitu hitungan JP Morgan. Tapi, normalnya, lebih dari 15 juta barel minyak mentah plus 4 juta barel produk olahan seperti bensin dan diesel, melintas di Selat Hormuz setiap harinya. Buffer mereka? Cuma sekitar 22 hari sejak perang dimulai.

Memang ada laporan Selasa lalu bahwa beberapa tanker berhasil melintas. Tapi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) punya peringatan keras. Mereka bilang Teheran yang akan "menentukan akhir perang". Bahkan, mereka berjanji tak akan membiarkan "satu liter pun minyak" diekspor dari kawasan jika serangan AS dan Israel terus berlanjut. Ancaman yang jelas-jelas bikin ciut.

Pemangkasan Produksi Mulai Terjadi

Irak, yang cadangan penyimpanannya cuma bertahan enam hari, kemungkinan besar sudah mentok. Mereka dilaporkan mulai memangkas produksi sekitar 1,5 juta barel per hari pekan lalu. Analis Rystad Energy memperingatkan, ladang minyak Irak yang masih beroperasi "menghadapi penghentian yang hampir pasti dalam waktu dekat."

Arab Saudi relatif lebih aman, dengan cadangan sekitar 66 hari menurut JP Morgan itu pun jika mereka bisa mengalihkan ekspor lewat jalur lain. Tapi Rystad punya hitungan lebih pesimis: Saudi mungkin cuma punya waktu efektif tujuh sampai sembilan hari sebelum terpaksa memangkas produksi.

Upaya pengalihan pun dilakukan. Saudi Aramco mengalihkan minyak ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sementara UEA lewat Fujairah yang juga tak luput dari serangan Iran. Masalahnya, jalur alternatif ini cuma bisa menampung sepertiga dari volume normal yang lewat Hormuz.

Laporan Bloomberg Selasa kemarin menyebutkan angka-angka yang konkret: Saudi sudah memangkas produksi hingga 2,5 juta barel per hari. UEA mengurangi 500.000 hingga 800.000 barel. Kuwait dan Irak juga ikut memotong, masing-masing sekitar 500.000 dan 2,9 juta barel per hari. Angka-angka itu didapat dari sumber yang mengetahui situasi di lapangan.

Bila Produksi Benar-Benar Berhenti

Bayangkan jika ekspor minyak dari Teluk benar-benar terhenti. Kawasan ini menyumbang sepertiga ekspor minyak mentah laut dunia. Harga pasti akan melambung tinggi. Menteri Energi Qatar bahkan bilang ke Financial Times, harga bisa tembus $150 per barel jika konflik berlarut dan produksi terpaksa dihentikan.

Peringatan serupa datang dari Saudi Aramco soal "dampak yang sangat serius" jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut. Bank ING dari Belanda mencatat, makin lama konflik, makin banyak pasokan yang terhenti karena tak ada jalan keluar. Badan Energi Internasional (IEA) juga khawatir gangguan berkepanjangan bisa mengubah pasar dari surplus jadi defisit.

Dan restart produksi setelah berhenti bukan perkara gampang. Butuh hari hingga minggu untuk kembali normal. Jika berhentinya lama, risiko kerusakan peralatan atau masalah di lapangan tambah besar. Repotnya bukan main.

Fasilitas Energi yang Jadi Sasaran

Kerusakan sudah terjadi di mana-mana. Awal Maret, drone Iran menghantam kilang minyak terbesar Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi. Fasilitas berkapasitas 550.000 barel per hari itu ditutup sementara untuk penilaian kerusakan.

Di hari yang sama, Ras Laffan di Qatar fasilitas ekspor LNG terbesar dunia juga kena. QatarEnergy terpaksa hentikan operasi dan umumkan "force majeure".

Meski Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat minta maaf ke negara-negara Teluk dan janji hentikan serangan, serangan sporadis tetap berlanjut. Senin malam, drone menghantam Pulau Sitra di Bahrain, merusak kompleks kilang Al Ma'ameer dan menghentikan pengiriman.

Pertahanan udara Saudi juga mengaku menghancurkan empat drone yang menuju ladang minyak Shaybah. Presiden AS Donald Trump bilang perang akan berakhir "sangat segera," tapi serangan ke Kuwait, Bahrain, dan UEA kembali terjadi Selasa pagi. Saudi lagi-lagi menghancurkan dua drone di wilayah timurnya yang kaya minyak.

Suasana makin mencekam. Dan pasar minyak dunia, menahan napas.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar